Senin, 21 Januari 2013

Teori Imlisit Versus Teori Eksplisit dan Konstruksi Sosial Mengenai Kenyataan




Teori Imlisit Versus Teori Eksplisit dan Konstruksi Sosial Mengenai Kenyataan

            Pengaruh dari pengalaman-pengalaman sosial individu atau dari pengalaman intelektualnya pada orientasinya terhadap lingkungan social sangatlah dipengaruhi oleh persfektip Berger dan Luckmann mengenai konstruksi sosial tentang kenyataan. (Lihat Peter L. Berger dan Thomas Luckmann, The sosial Construction of Reality : Garden City, N.Y. : Doubleday, 66). Berger dan Luckmann menekankan bahwa sistem-sistem sosial dan pandangan-pandangan hidupnya diciptakan dan dipertahankan secara sosial, tidak didasarkan pada suatu kenyataan akhir atau absolut. Tetapi dalam suatu masyarakat yang sangat stabil yang memiliki satu pandangan hidup budaya yang dominan, orang mengalami kenyataan sosial di mana mereka termasuk, dan yang pandangan hidupnya memberikan pembenaran atau legitimasi, sebagai suatu yang didasarkan pada sesuatu kenyataan absolut dan tidak berubah-ubah, yang terlepas dari kenyataan-kenyataan dan ide-ide budayanya. Sebaliknya, dalam masyarakat-masyarakat yang lebih mudah berubah-ubah atau yang bersifat pluralistik dalam struktur sosial atau ide-ide budayanya, pandangan hidup yang monolitis dan tidak berubah-ubah itu tidak bisa diterima. Di sana banyak sekali berkembang pandangan-pandangan hidup yang bersifat kompetitif dan pola budaya, yang masing-masing didasarkan pada definisi-definisi sosial yang memperlihatkan alternatif atau kepercayaan-kepercayaan di mana orang harus mengadakan pilihan dari antaranya.
            Perspektif Berger dan Luckmann membantu kita untuk memahami distingsi antara lingkungan-lingkungan sosial yang mendorong terjadinya refleksi yang sadar akan bentuk-bentuk sosial dan bentuk-bentuk budaya, dan lingkungan-lingkungan sosial yang mendorong diterimanya bentuk-bentuk ini secara pasif dan tidak reflektif. Ini sesuai dengan anggapan bahwa berteori yang didasarkan pada sadar-diri akan kenyataan sosial akan lebih lazim terjadi dalam lingkungan sosial yang terbuka dan pruralistis.
            Ringkasnya, kita semua berteori dalam proses menciptakan atau mempertahankan kenyataan sosial, meskipun mungkin kita tidak menganggap diri kita sendiri sebagai ahli teori sosial. Sebagai Manusia, kita melihat apa yang ada dibelakang pengalaman langsung atau fakta dari situasi kita sendiri dengan maksud untuk menginterpretasi, menjelaskan, meramal, dan merencanakan kehidupan kita sehari-hari. Namun kita tidak selalu sadar akan asumsi-asumsi implisit yang menjadi dasar kesimpulan ini, dan kita tidak selalu menghargai bahwa asumsi-asumsi ini diciptakan oleh manusia dalam kehidupan sosial.
            Kesadaran kita akan asumsi-asumsi teoritis yang kita miliki, dan akan sifatnya yang tidak sempurna dan diciptakan dalam kehidupan sosial, mungkin akan ditimbulkan oleh pengalaman apa saja di mana kebiasaan-kebiasaan yang mapan menjadi tidak sesuai atau tidak relevan dan harus diubah, atau di mana kita dipaksa untuk membenarkan atau mempertahankan asumsi-asumsi ini, atau membuat pilihan-pilihan yang tidak biasa di antara alternatif-alternatif. Beberapa pengalaman yang demikian itu sudah kita tunjukkan : mobilitas atau terbukanya lintas budaya di mana wawasan pengalaman sosial seseorang itu diperluas ; perubahan pesat yang sering kali menuntut pilihan yang sadar akan suatu tipe yang tidak tercakup dalam tradisi yang sudah mapan ; dan marginalitas yang sering kali mengakibatkan orang mengambil jarak tertentu terhadap kebiasaan dan kepercayaan tertentu (Melanjutkan bentuk-bentuk pertanyaan seperti dalam bagian ini dapat masuk pada satu bidang yang disebut sosiologi mengenai sosiologi. Dalam beberapa hal,  pembaca mungkin dapat mengenal jenis pengalaman sosial yang membangkitkan niat terhadap sosiologi. Juga bagi para ahli teori sosiologi yang didiskusikan di sini diandaikan bahwa pengalaman-pengalaman sosial mereka, sikap refleksinya atas lingkungan sosial dan lingkungan intelektual di mana mereka hidup, bukan tidak relevan dengan jenis teori sosiologi yang mereka kembangkan).
            Pengalaman-pengalaman seperti itu, terutama kalau digabungkan dengan perspektif ilmiah, merangsang proses berteori secara eksplisit atau secara sadar. Sesungguhnya mereka yang benar-benar mempunyai komitmen terhadap metode-metode dan nilai-nilai ilmiah dan yang mempunyai kesempatan untuk menjajagi pelbagai isu sosial dengan menggunakan perspektif ilmiah, mungkin dapat mengembangkan minat untuk berteori sosiologi, meskipun tanpa macam-macam pengalaman sosial yang luas, seperti yang sudah kita tunjukkan di atas. dipandang dari segi ini, teori sosiologi tidak hanya sekedar istilah tertentu yang hanya dimengerti oleh kelompok-kelompok tertentu saja sebagai hasil dari spekulasi abstrak dari kaum akademisi ; teori sosiologi merupakan kegiatan manusia yang hakiki yang membangkitkan kesadaran kita yang berhubungan dengan lingkungan sosial. Dengan membuka diri terhadap teori sosiologi kita menjadi lebish sadar akan pelbagai cara di mana dunia sosial dan dunia budaya kita itu diciptakan dan dipertahankan, atau diubah lewat kegiatan dan interaksi manusia. Kemampuan kita untuk memilih dari antara alternatif-alternatif dan kemampuan kita untuk merencanakan masa depan secara realistis dan kreatif harus didukung oleh pengalaman meningkatkan kesadaran akan perlunya mempelajari teori sosial.  

(Salah satu materi diskusi harian di Himpunan Mahasiswa Banten Jakarta pada semester 1)

0 komentar:

alipoetry © 2008 Por *Templates para Você*