Minggu, 26 Februari 2012

Kekuatan Maaf Rasulullah SAW




Kekuatan Maaf Rasulullah SAW


Seorang lelaki Arab bernama Tsumamah bin Itsal dari Kabilah Al Yamamah pergi ke Madinah dengan tujuan hendak membunuh Nabi Shalallahu Alaihi wa Sallam. Segala persiapan telah matang, persenjataan sudah disandangnya, dan ia pun sudah masuk ke kota suci tempat Rasulullah tinggal itu. Dengan semangat meluap-luap ia mencari majlis Rasulullah, langsung didatanginya untuk melaksanakan maksud tujuannya. Tatkala Tsumamah datang, Umar bin Khattab ra. yang melihat gelagat buruk pada penampilannya menghadang.
Umar bertanya, “Apa tujuan kedatanganmu ke Madinah? Bukankah engkau seorang musyrik?”
Dengan terang-terangan Tsumamah menjawab, “Aku datang ke negeri ini hanya untuk membunuh Muhammad!”.
Mendengar ucapannya, dengan sigap Umar langsung memberangusnya. Tsumamah tak sanggup melawan Umar yang perkasa, ia tak mampu mengadakan perlawanan. Umar berhasil merampas senjatanya dan mengikat tangannya kemudian dibawa ke masjid. Setelah mengikat Tsumamah di salah satu tiang masjid Umar segera melaporkan kejadian ini pada Rasulullah.
Rasulullah segera keluar menemui orang yang bermaksud membunuhnya itu. Setibanya di tempat pengikatannya, beliau mengamati wajah Tsumamah baik-baik, kemudian berkata pada para sahabatnya, “Apakah ada di antara kalian yang sudah memberinya makan?”.
Para shahabat Rasul yang ada disitu tentu saja kaget dengan pertanyaan Nabi. Umar yang sejak tadi menunggu perintah Rasulullah untuk membunuh orang ini seakan tidak percaya dengan apa yang didengarnya dari Rasulullah. Maka Umar memberanikan diri bertanya, “Makanan apa yang anda maksud wahai Rasulullah? Orang ini datang ke sini ingin membunuh bukan ingin masuk Islam!” Namun Rasulullah tidak menghiraukan sanggahan Umar. Beliau berkata, “Tolong ambilkan segelas susu dari rumahku, dan buka tali pengikat orang itu”.
Walaupun merasa heran, Umar mematuhi perintah Rasulullah. Setelah memberi minum Tsumamah, Rasulullah dengan sopan berkata kepadanya, “Ucapkanlah Laa ilaha illa-n Llah (Tiada ilah selain Allah).” Si musyrik itu menjawab dengan ketus, “Aku tidak akan mengucapkannya!”. Rasulullah membujuk lagi, “Katakanlah, Aku bersaksi tiada ilah selain Allah dan Muhammad itu Rasul Allah.” Namun Tsumamah tetap berkata dengan nada keras, “Aku tidak akan mengucapkannya!”
Para sahabat Rasul yang turut menyaksikan tentu saja menjadi geram terhadap orang yang tak tahu untung itu. Tetapi Rasulullah malah membebaskan dan menyuruhnya pergi. Tsumamah yang musyrik itu bangkit seolah-olah hendak pulang ke negerinya. Tetapi belum berapa jauh dari masjid, dia kembali kepada Rasulullah dengan wajah ramah berseri. Ia berkata, “Ya Rasulullah, aku bersaksi tiada ilah selain Allah dan Muahammad Rasul Allah.”
Rasulullah tersenyum dan bertanya, “Mengapa engkau tidak mengucapkannya ketika aku memerintahkan kepadamu?” Tsumamah menjawab, “Aku tidak mengucapkannya ketika masih belum kau bebaskan karena khawatir ada yang menganggap aku masuk Islam karena takut kepadamu. Namun setelah engkau bebaskan, aku masuk Islam semata-mata karena mengharap keredhaan Allah Robbul Alamin.”
Pada suatu kesempatan, Tsumamah bin Itsal berkata, “Ketika aku memasuki kota Madinah, tiada yang lebih kubenci dari Muhammad. Tetapi setelah aku meninggalkan kota itu, tiada seorang pun di muka bumi yang lebih kucintai selain Muhammad Rasulullah.”
Sahabat……….. Apakah kita pengikut ajaran beliau? Tetapi sejauh mana kita bisa memaafkan kesalahan orang? Seberapa besar kita mencintai sesama? kalau tidak, kita perlu menanyakan kembali ikrar kita yang pernah kita ucapkan sebagai tanda kita pengikut beliau…
Sungguh, beliau adalah contoh yang sempurna sebagai seorang manusia biasa. beliau adalah Nabi terbesar, beliau juga adalah Suami yang sempurna, Bapak yang sempurna, pimpinan yang sempurna, teman dan sahabat yang sempurna, tetangga yang sempurna. maka tidak salah kalau Allah mengatakan bahwa Beliau adalah teladan yang sempurna.
Semoga Shalawat dan salam senantiasa dilimpahkan kepada beliau, junjungan dan teladan kita yang oleh Allah telah diciptakan sebagai contoh manusia yang sempurna.
Salam ’alaika ya Rasulullah………
Semoga Bermanfaat….

Shared By Kisah Penuh Hikmah

***

Sabtu, 25 Februari 2012

syair dari UIN THE RED MOLOTOV




NIHILIS

Apalagi yang akan kau lakukan
Semuanya telah ditinggalkan
Tiada lagi cerita yang terungkap
Semuanya telah disingkirkan

Di sini kita berdiri menatap sepi diri sendiri
Di sini kita mencari diri sendiri yang telah pergi

Apalagi yang akan kau lakukan
Semuanya telah ditinggalkan
Tiada lagi cerita yang terungkap
Semuanya telah disingkirkan

Di sini menari-nari lepaskan semua beban di hati
Di sini kita menatap diri sendiri yang telah mati

Apalagi yang akan kau lakukan
Semuanya telah ditinggalkan
Tiada lagi cerita yang terungkap
Semuanya telah disingkirkan

Percuma saja kau lakukan
Kematian kini telah menjadi hiburan
Merayap semua keresahan
Memuncak amarah di dalam resah

Persetan dengan kata-kata
Tak akan pernah kukembali
Peduli setan kematian
Kala jemariku terkepal

Biarkan saja mereka yang bicara
Tentang siksa sakitnya jiwa
Merayap semua keresahan
Memuncak amarah di dalam resah
Bernyanyilah dalam sepi, dalam sunyi hati ini

Hanya marah yang mengalir dikepala
Hanya resah yang tersisa di jiwa
Hanya marah yang mengalir dikepala
Hanya resah yang tersisa di jiwa

Bergerak di haluan, berarak di tepian
Di sini kita berhenti, di sini kita menepi

Di sini kita berdiri menatap sepi diri sendiri
Di sini kita mencari diri sendiri yang telah pergi
Di sini menari-nari lepaskan semua beban di hati
Di sini kita menatap diri sendiri yang telah mati

Hukum dan Tata Krama Itu Tak Pernah Libur



Hukum dan Tata Krama Itu Tak Pernah Libur

Hari yang cukup melelahkan, merasa kurang puas dengan pelajaran hari ini, karena tidak banyak pelajaran yang dapat kuambil. Namun ada satu nilai yang cukup luar biasa jika dapat kurenungi dan dapat kujalankan sebagaimana yang kuterima itu. Sebab Tidak hanya siapa yang mengatakan perkataan yang indah itu namun kata-katanya pun teramat luar biasa. Ya siang tadi ketika ada hal yang harus kukerjakan dikampus tepatnya di fakulty of syaria and law. 

Dengan sengaja aku ke fakultas meski dengan pakaian yang cukup rapih namun dengan sengaja pula aku hanya memakai sandal, padahal aku tahu aturan main jika mau ke kampus dan memasuki kawasan "Danger" harus mematuhi auran itu. Dan lebih-lebih Dekan dari fakultas adalah senior dari organisasi kedaerahanku Banten, Aku juga cukup mengenal baik beliau dan pernah saat pertama kali kunjungan ke rumah beliau dalam rangka silaturahmi meski sama dengan hari ketika aku berkunjung ke kampus kali ini, berkunjung ke rumah belia aku hanya memakai pakaian kaus meski bagiku pakaian yang kugunakan juga cukup rapi, namun itulah mungkin sebuah prinsipil dari seorang yang luar biasa akan berbeda dengan seorang lainnya. Kata beliau "Jika kamu mau dihormati oleh orang lain maka kamu pun harus selalu berusaha menghormati orang lain" kata beliau menasihatiku.

Dan intinya adalah ketika aku berkunjung ke rumah Beliau atau siapapun maka aku disarankan memakai pakaian yang rapih, jangan memakai kaus tapi pakailah kemeja. Mungkin bagi sebagian anak muda memang hal yang biasa memakai kemeja tapi bagiku ketika itu menganggap pakaian yang kukenakan pun cukup rapih dan tidak terlihat buruk.

Ada satu hal lagi memang yang membuat beliau sedikit marah ketika aku berkunjung kerumah beliau. Salah satu temanku yang bersama-sama denganku ke rumah beliau memakai celana Levis dan pada bagian lututnya ada robekan "Celana anak muda masa kini". Karena hal itulah mengakibatkan selama hampir dua jam di rumah Profesor aku diceramahin habis-habisan. Tapi aku merasa nyaman kok, karena apa yang dikatakannya itu kata-kata yang benar dan demi kebaikan kami khususnya dan kebaikan anak-anak muda jaman sekarang umumnya sebagai pemimpin hari esok.

Dan satu lagi yang membuat aku tak dapat melupakan Profesor, Ketika aku mau pulang aku deberi salah satu buku ciptaan beliau yang tebalnya kurang lebih 1.000 lembar. dan beliau berharap padaku bisa menggunakan dan memanfaatkan buku itu sebaik mungkin. Ah alangkah bahagianya saat itu.

Dan pada siang tadi, ketika aku ke kampus dengan memakai sandal, kebetulan aku melihat profesor di lobi fakultas, aku mengurungkan niatku masuk fakultas karena aku tahu jika profesor melihatku seperti sekarang ini maka akupun akan diceramahin habis-habisan seperti ketika dirumahnya. Namun aku terlambat menghindar sepertinya Profesor telah terlebih dahulu melihatku. Karena Beliau tahu aku memakai sandal maka dipanggilnya aku menghadapnya. Dengan langkah sedikit gontai dan dada sedikit berdebar aku menghampiri Profesor.

"Hambali kamu kenapa diam disitu???" tanya Beliau
"Ah tidak pak, saya hanya ada sedikit keperluan.." jawabku
"Kamu tahu kan aturan main kalau kamu mau ke fakultaas ini" Tanya beliau lagi
"Ia pak, tapi hari ini kan libur pak..." dengan sedikit tersenyum malu aku berupaya mencairkan kemarahan beliau
"Kamu ini... Kamu  Tahu tidak tentang sebuah Prinsip hukum. Hukum dan Tata Krama itu tidak pernah libur, dimanapun dan kapanpun ia akan selalu ada dan tetap berlaku..." Beliau menjelaskan.
"Nanti lain kali paki sepatunya ya..." tambah Beliau
"Ia pak... saya minta maaf.." jawabku tak punya lagi alasan
"Oh iya pak hambali kemarin ke Pengadilan Agama Cilegon dan bertemu dengan pak Asfari beliau memberikan salam buat bapak... kata beliau kapan bapak bisa mampir ke Citangkil lagi."
"Oh ya terimakasih. Bapak kenal baik dengan belliau nanti lain kali kalau kamu kesana lagi kamu harus banyak minta pelajaran kepada beliau karena beliau orang yang cukup mapan di bidang hukum. Sekarang kamu selesaikan saja urusanmu dan secepatnya lulus ya, jangan ditunda lagi."
"Baik pak" jawabku
Akhirnya Profesor meninggalkanku dengan menyimpan kata-kata yang baik untukku yakni "Hukum dan tata krama itu tak pernah libur!!!"

Jumat, 24 Februari 2012

Permohonanku tak dianggap



Permohonanku tak dianggap

Terlelap kesunyian diselimuti kerahasiaan
Disebalik dadanya yang datar terhimpit oleh kerisauan
Kabut tebal melengkung diluasan pikirannya
Dari belaian kasih tangannya malam pun syahdu
Terlihat dari sudut mataku
Kabut pekat itu bagai petir
Yang menyambar ubun-ubunku
Aku disini
Diatas peraduanku
Terbaring diatas permadani duri
Bentangan sutera putih disampingku
Seakan aku raga yang ditinggalkan ruhnya
Dalam makam kesunyian aku dikuburkan
Raga terbungkuskan sesak jiwa menyayat hati
Dari sebalik dinding yang curam ini
Aku menatap penaku
Tidur disisi kertas bercahaya
Dengan denyut jantung yang tak karuan
Entah apa yang ada dalam pikirannya
Tubuhnya mulai lemas
Ketika katanya tak lagi dipedulikan
Permintaannya tak ditanggapi
Keinginannya dihiraukan
Tanpa adanya jawaban
Meski berjuta panggilan dengan segenap jiwa
Memohon merintih dengan hati
Dalam kesunyian enam puluh menit
Apalagi kini yang menjadi harapannya
Semua hanya bagai mimpi
Tak sanggup ia petik
Nada pilunya yang terlukiskan
Kini terlihat bagai lukisan kepedihan
Yang tercatatkan dalam goresan syair dalam puisi
Oh penaku
Disisimu ada kertas bercahaya
Tak lagi kau dipedulikannya
Apa salahnya kau menjadi tinta
Mengalir tenang sepanjang detik waktumu
Menunggu saat kertas bercahaya membutuhkanmu
Meski harapan itu semu
Mentari pagi akan menyambutmu sebagai kawan
Kupu-kupu akan terbang di sisi kesabaranmu
Oh penaku
Biarkan kau menjadi tinta
Hingga melukiskan akan sejarah panjang hidupku
Yang tersusun dari berjuta mimpi dan keinginan
Dan terkadang aku dihinakan begitu rendah
Tak dianggap sebagai makhluk yang memiliki hati
Hingga goresan tak nyatapun seperti ukiran di tubuhku
Saat malam pekat menampakkan bintangnya
Biarkan jiwa ini melayang tinggi
Setelah terhina begitu rendah
Dan dengan kesabaran upayaku
Aku yakin padang gersang akan menjadi sabana hijau
Dan sungguh ketika malam
Kertas bercahaya itu
Kugoresi dengan tinta-tinta hatiku
Yang masih basah akan luka yang perih
Namun orang yang kusayangipun tak peduli
Kata-kata ku tak dianggap
Permohonanku tak dianggap
Aku direndahkan dengan segala keindahannya
Hingga aku tak punya perbendaharaan kata lagi
Hanya tinta dan airmata yang melukiskannya
Untuk mengucapkan rasa
Rasa terimakasih untuk pelajaran berharga darinya
Tentang pentingnya kufu’ dalam perjalanan kasih
Hingga tak ada lagi jarak
Aku yang lemah dengan segala kekuranganku
Dengan ia yang indah dengan segala kelebihannya
Dan kini
Penaku, tidurlah!!
Kertas bercahayaku tidurlah!!
Hingga pikiranku pun tertidur
Meski tidurnya dipenuhi mimpi yang sesakan jiwa
Sambil berharap
Fajar jangan terbit dulu
Aku malu dengan air mataku yang mengalir
Tersinari dan dibasahi embun pagi


Rabu, 22 Februari 2012

satu syair dari UIN




The Red Molotov (UIN Syarif Hidayatullah Jakarta)


Raga terasa rapuh, ditelan kelapuhan
Kini kurasa jenuh, karena jiwa tak terbasuh
Mungkin suatu saat, akan kubuka sesaat
Walau diam tanpa suara, pasti nyata kan bicara


Takkan pernah kubisa, berpaling dariMU
Takkan pernah kumampu, menghindar dariMU


Lelah memendam jenuh, menjelma kekalutan
Dada menahan malu, mengoyakkan kepiluan
Rahasia yang terungkap, tentang sesak dan gejolak
Menepiskan sesat jiwa, menitiskan genta cinta


Takkan pernah kubisa berpaling dariMU
Takkan pernah kumampu menghindar dariMU
Takkan pernah kubisa berlari dariMU
Takkan pernah kumampu menghindar dariMU


Air yang mengalir, udara yang berhembus
Menembus sukma jiwa, sejukkan hati lara
Angin menghempas
dada terkoyak, jiwa berontak
Lepaskan semu, lemparkan sendu, basahi kalbu
Mengurung malu
tersujud haru, menggenggam syahdu
Sirnalah pilu, hilanglah ragu, tegar kuberdiri


aaa…aaa…aaa…
aaa…aaa…aaa…


Takkan pernah kuragu, mendekap diriMU
Takkan pernah kujemu, memandang wajahMU
Takkan pernah kujenuh, mendengar suaraMU
Takkan pernah kumalu, menjadi milikMU

Takkan pernah
Takkan pernah
Takkan pernah
Takkan pernah


Takkan pernah kubisa berpaling dariMU
Takkan pernah kumampu menghindar dariMU



“Maaf jika ada yang merasa terluka, hambali tak pernah menginginkan siapapun terluka baik melalui tangan, lidah, atau hati hambali. Tak pernah sedikitpun menginginkan siapapun baik musuh atau sahabat terluka oleh hambali apalagi seseorang yang menjadi bagian yang kusayangi. Dan seandainya ada yang merasa tersakiti tanpa kusengaja sungguh tak pernah ada niat untuk melakukan untuk itu, sungguh sedikitpun aku tak pernah berani menyentuhmu untuk menyakitimu apalagi lebih dari itu. Atau mungkin jika kata ini adalah sentuhan yang kau anggap sebagai tamparan bagimu, sungguh tak ada niat kata yang kubuat ini sebagai alat untuk menyakitimu. Sungguh tak ada niat untuk itu…”

Selasa, 21 Februari 2012

Benarkah Ia Yang Ada di Hadapanku Saat Ini




Benarkah Ia Yang Ada di Hadapanku Saat Ini

Ia ada dihadapanku kini…
Apakah ini hanya sebuah mimpi yang nyata…
Aku tahu sungguh ia benar-benara ada di hadapanku…
Namun apa yang aku bisa lakukan…
Hanya terdiam…
Seolah tak melihat apapun…
Aku tak berani menatap wajahnya…
Apalagi untuk menatap matanya yang bening…
Tiap kali aku berusaha menatapnya…
Aku tak berani…
Tak ada kemampuan dariku untuk melakukan itu…
Apalagi untuk menatap matanya…
Yang bersinar menyilaukan hatiku…
Rasanya aku seperti menatap matahari…
Tak mungkin aku lakukan..
Tak tahukah ia, manatku berkaca-kaca…
Karena ketidakmampuanku menatap keindahannya…
Padahal krinduan yang kurasakan ini tak dapat lagi kukatakan…
Lalu bagaimana aku…
Bagaimana aku…
Bagaimana aku…
Bagaimana aku…
Hanya jeritan itu yang berulang kali aku lakukan…
Tak pernah ia dengarkan…
Karena memang hanya ada dalam hatiku…
Sesekali aku terdiam…
Aku seperti mati…
Aku ada namun seperti dalam ketiadaan…
Aku hinggap di angkasa yang tak pernah bertuan…
Aku ada namun entah adaku untuk apa??
Sesekali hanya suaranya saja yang mampu kudengar…
Hanya suaranya saja…
Entah sampai kapan rasa itu akan berakhir…
Atau mungkin takan pernah berakhir untuk selamanya…
Sedikit demi sedikit rasa ini semakin memuncak…
Apakah untuk ketiadaan…
Atau hanya untuk menguji ketabahanku…
Aku tak pernah mengerti segalanya…
Aku tak pernah mengerti apapun tentang yang kupikirkan saat ini…
Aku tak pernah mengerti apapun yang kurasa  saat ini…

Satu kalimat yang ia tanyakan...
“Hambali lagi ngerjain skripsi, udah sampe bab IV ya???”
“Ia, belum kok, “..............” udah beres???”
Beberapa detik kemudian…
Hanya kesepian yang ada…
Sunyi…

Tuhan jagalah aku…
Jagalah aku dari perasaan yang tak menentu ini…
Aku terasa  kalut tanpa kasih-Mu…
Aku takan kuasa jika kau jauhkan rahmat-Mu dariku…
Jika ia memang bukan untukku…
Biarkan ia langkahkan  kakinya tuk temui laki laki lain selain diriku..
Aku rela dengan segala kehendak-Mu…
Aku rela dengan segala yang Engkau tentukan…
Karena memang hanya Engkaulah yang  berhak atas diriku…
Dan Engkau lah yang berhak atas dirinya…
Dan Engkaulah yang berhak atas segalanya…
Aku hanya memohon padamu…
Orang yang kusayangi ini…
Yang kini benar atau hanya kenyataan dalam mimpi ada dihadapanku…
Dengan segala kesunyian dan keheningannya…
Bahagiakanlah ia…
Bahagiakanlah ia Tuhan…
Meski bukan bersamaku…
Bahagiakanlah ia Tuhan…
Aku mohon dengan segala kesungguhanku bahagiakanlah ia Tuhan…

Jika saja air mata yang tertahan ini adalah kebaikan…
Biarkanlah ia terus mengalir…
Meski mulai tak tahan lagi…
Biarkan air mataku ini sebagai penebus dosaku untuk-Mu…
Biarkanlah airmata yang tertahan ini sebagai jaminan untuk kebahagiaannya…
Seorang wanita yang indah dimataku…
Seorang wanita yang ku anggap paling berharga setelah Ibu dan kakak adikku…
Bahagiakanlah ia Tuhan…
Inilah jaminanku…
Air mata yang tertahan ini…

Tuhan jikalau kali ini mungkin pertemuanku terakhir untuknya…
Aku mohon jadikan pertemuan ini sebagai pertemuan yang penuh dengan keikhlasan…
Sepenuh keikhlasan yang terdalam dari hatiku…

Lye_ 21 Februari 2012
16:48

Minggu, 19 Februari 2012

surat sahabat 2




Pecahkan saja piringnya *kolomprang...
Alangkah indahnya hidup ini...
Pabila cintanya terbalaskan..
Dan alangkah malang nasibnya..
Jika cintanya berteppuk sebelah tangan..
Ya .. Tuhan...
Tunjukanlah kebesaranmu..
Aku iri terhadap orang2 dsekelilingku..
Yang meraih cintanya tanpa adanya hambatan sedikitpun
Ya... Tuhan..
Tunjukanlah....
Harus seperti apa aku memohon...
Agar sampai doaku padaMu
Wahai angin sampaikanlah setitik doaku ini...
Wahai.. cahaya... sampaikanlah...
Dengan kecepatanmu yang tiada tandingannya..
Menunduk...
Tanpa adanya balasan...
Hilanglah..
Sirnalah...
Gelap menyelimuti....
Tanpa adanya setitikpun cahaya yang menyinari....
Ya Tuhan...
Apakah aku terlalu kotor untuk mendapatkan cinta...
Apakah aku terlalu menjijikan....
Yah...
Memang...
Tapi apakah kau buta...
Coba kau lihat diluar sana...
Apakah mereka terlihat suci..
Apakah mereka lebih baik...
Coba kau lihat...
Dmn letak keadilanmu...



“Sahabatku… Sabarlah, Allah Teramat Sempurna, Dengan Kekuasaan-Nya Tak Mungkin Menciptakan Kita Dengan Kesia-siaan… Bersabarlah Sahabatku AG Suatu saat Pasti Kau akan Temukan Kebahagiaanmu… ”
Untuk Sahabatku  “a g”

Sabtu, 18 Februari 2012

Malam Ini Aku Cemburu



Malam Ini Aku Cemburu

Malam ini aku cemburu...
Aku cemburu pada malam...
Karena malam telah mampu membuatmu tertidur lelap...
Aku cemburu pada dinding kamarmu...
Yang setiap malam mampu menjaga tidurmu...
Aku cemburu pada denting jam malammu...
Yang setiap malam memberikan nada untuk tidurmu...
Aku cemburu pada langit...
Yang setiap saat menyelimutimu..
Aku cemburu pada awan yang setiap saat memayungimu...
Aku cemburu pada rembulan itu...
Karena ia mampu memandangmu dari balik jendela kamarmu...
Aku cemburu pada bintang...
Yang senantiasa genit ketika nampak di balik matamu...
Aku cemburu pada air...
Yang selalu menyejukanmu...
Aku cemburu pada cahaya matahari...
yang selalu menghangatkanmu...
Aku cemburu pada embun pagi...
Yang setiap pagi selalu menyapamu...
Aku cemburu pada layar bercahayamu...
Yang setiap saat menemanimu...
Aku cemburu pada pakaianmu...
Yang setiap saat mampu menjaga kesucianmu...
Aku cemburu pada perhiasan yang kau pakai...
Yang mampu membuatmu semakin indah...
Aku cemburu pada waktu...
Yang selalu menampung kisah tentangmu...
Kapan aku bisa menjadi semua itu disisimu...

Rabu, 15 Februari 2012

Aku Ingin Anak Lekakiku Menirumu




Aku Ingin Anak Lekakiku Menirumu


Ketika lahir, anak lelakiku gelap benar kulitnya, Lalu kubilang pada ayahnya: “Subhanallah, dia benar-benar mirip denganmu ya!”
Suamiku menjawab: “Bukankah sesuai keinginanmu? Kau yang bilang kalau anak lelaki ingin seperti aku.”
Aku mengangguk. Suamiku kembali bekerja seperti biasa. Ketika bayi kecilku berulang tahun pertama, aku mengusulkan perayaannya dengan mengkhatamkan Al Quran di rumah Lalu kubilang pada suamiku: “Supaya ia menjadi penghafal Kitabullah ya,Yah.”
Suamiku menatap padaku seraya pelan berkata: “Oh ya. Ide bagus itu.”
Bayi kami itu, kami beri nama Ahmad, mengikuti panggilan Rasulnya. Tidak berapa lama, ia sudah pandai memanggil-manggil kami berdua: Ammaa. Apppaa. Lalu ia menunjuk pada dirinya seraya berkata: Ammat! Maksudnya ia Ahmad. Kami berdua sangat bahagia dengan kehadirannya. Ahmad tumbuh jadi anak cerdas, persis seperti papanya. Pelajaran matematika sederhana sangat mudah dikuasainya. Ah, papanya memang jago matematika. Ia kebanggaan keluarganya. Sekarang pun sedang S3 di bidang Matematika.
Ketika Ahmad ulang tahun kelima, kami mengundang keluarga. Berdandan rapi kami semua. Tibalah saat Ahmad menjadi bosan dan agak mengesalkan. Tiba-tiba ia minta naik ke punggung papanya. Entah apa yang menyebabkan papanya begitu berang, mungkin menganggap Ahmad sudah sekolah, sudah terlalu besar untuk main kuda-kudaan, atau lantaran banyak tamu dan ia kelelahan. Badan Ahmad terhempas ditolak papanya, wajahnya merah, tangisnya pecah,
Muhammad terluka hatinya di hari ulang tahunnya kelima. Sejak hari itu, Ahamad jadi pendiam. Murung ke sekolah, menyendiri di rumah. Ia tak lagi suka bertanya, dan ia menjadi amat mudah marah. Aku coba mendekati suamiku, dan menyampaikan alasanku. Ia sedang menyelesaikan papernya dan tak mau diganggu oleh urusan seremeh itu, katanya.
Tahun demi tahun berlalu. Tak terasa Ahmad telah selesai S1. Pemuda gagah, pandai dan pendiam telah membawakan aku seorang mantu dan seorang cucu. Ketika lahir, cucuku itu, istrinya berseru sambil tertawa-tawa lucu: “Subhanallah! Kulitnya gelap, Mas, persis seperti kulitmu!”
Ahmad menoleh dengan kaku, tampak ia tersinggung dan merasa malu.
“Salahmu. Kamu yang ingin sendiri, kan. Kalau lelaki ingin seperti aku!”
Di tanganku, terajut ruang dan waktu. Terasa ada yang pedih di hatiku. Ada yang mencemaskan aku.
Cucuku pulang ke rumah, bulan berlalu. Kami, nenek dan kakeknya, datang bertamu. Ahmad kecil sedang digendong ayahnya. Menangis ia. Tiba-tiba Ahmad anakku menyergah sambil berteriak menghentak,
“Ah, gimana sih, kok nggak dikasih pampers anak ini!” Dengan kasar disorongkannya bayi mungil itu.
Suamiku membaca korannya, tak tergerak oleh suasana. Ahmad, papa bayi ini, segera membersihkan dirinya di kamar mandi. Aku, wanita tua, ruang dan waktu kurajut dalam pedih duka seorang istri dan seorang ibu. Aku tak sanggup lagi menahan gelora di dada ini.
Pecahlah tangisku serasa sudah berabad aku menyimpannya. Aku rebut koran di tangan suamiku dan kukatakan padanya:
“Dulu kau hempaskan Ahmad di lantai itu! Ulang tahun ke lima, kau ingat? Kau tolak ia merangkak di punggungmu! Dan ketika aku minta kau perbaiki, kau bilang kau sibuk sekali. Kau dengar? Kau dengar anakmu tadi? Dia tidak suka dipipisi. Dia asing dengan anaknya sendiri!”
Allahumma Shali ala Muhammad. Allahumma Shalli alaihi wassalaam. Aku ingin anakku menirumu, wahai Nabi. Engkau membopong cucu-cucumu di punggungmu, engkau bermain berkejaran dengan mereka Engkau bahkan menengok seorang anak yang burung peliharaannya mati. Dan engkau pula yang berkata ketika seorang ibu merenggut bayinya dari gendonganmu,
“Bekas najis ini bisa kuseka, tetapi apakah kau bisa menggantikan saraf halus yang putus di kepalanya?”
Aku memandang suamiku yang terpaku.
Aku memandang anakku yang tegak diam bagai karang tajam.
Kupandangi keduanya, berlinangan air mata.
Aku tak boleh berputus asa dari Rahmat-Mu, ya Allah, bukankah begitu?
Lalu kuambil tangan suamiku, meski kaku, kubimbing ia mendekat kepada Ahmad. Kubawa tangannya menyisir kepala anaknya, yang berpuluh tahun tak merasakan sentuhan tangan seorang ayah yang didamba.
Dada Ahmad berguncang menerima belaian.
Kukatakan di hadapan mereka berdua, “Lakukanlah ini, permintaan seorang yang akan dijemput ajal yang tak mampu mewariskan apa-apa: kecuali Cinta. Lakukanlah, demi setiap anak lelaki yang akan lahir dan menurunkan keturunan demi keturunan.
Lakukanlah, untuk sebuah perubahan besar di rumah tangga kita! Juga di permukaan dunia. Tak akan pernah ada perdamaian selama anak laki-laki tak diajarkan rasa kasih dan sayang, ucapan kemesraan, sentuhan dan belaian, bukan hanya pelajaran untuk menjadi jantan seperti yang kalian pahami. Kegagahan tanpa perasaan.
Dua laki-laki dewasa mengambang air di mata mereka.
Dua laki-laki dewasa dan seorang wanita tua terpaku di tempatnya.
Memang tak mudah untuk berubah. Tapi harus dimulai. Aku serahkan bayi Ahmad ke pelukan suamiku. Aku bilang: “Tak ada kata terlambat untuk mulai, Sayang.”
Dua laki-laki dewasa itu kini belajar kembali. Menggendong bersama, bergantian menggantikan popoknya, pura-pura merancang hari depan si bayi sambil tertawa-tawa berdua, membuka kisah-kisah lama mereka yang penuh kabut rahasia, dan menemukan betapa sesungguhnya di antara keduanya Allah menitipkan perasaan saling membutuhkan yang tak pernah terungkapkan dengan kata, atau sentuhan. Kini tawa mereka memenuhi rongga dadaku yang sesak oleh bahagia, syukur pada-Mu Ya Allah! Engkaulah penolong satu-satunya ketika semua jalan tampak buntu.
Engkaulah cahaya di ujung keputusasaanku. Tiga laki-laki dalam hidupku aku titipkan mereka di tangan-Mu.
Kelak, jika aku boleh bertemu dengannya, Nabiku, aku ingin sekali berkata: Ya, Nabi. aku telah mencoba sepenuh daya tenaga untuk mengajak mereka semua menirumu! Amin, Alhamdulillah

SEBARKAN ke teman anda jika menurut anda catatan ini bermanfaat
Author : PercikanIman.org
Shared By Kisah Penuh Hikmah
***

alipoetry © 2008 Por *Templates para Você*