Minggu, 30 Oktober 2011

BAY’ TAQSITH (JUAL BELI KREDIT)



BAY’ TAQSITH (JUAL BELI KREDIT)

Bay’ Taqsith sama dengan Jual beli kredit atau disebut juga sebagai Al-Bay’ Bitsamanil Ajil atau Al-bay’ ila Ajal. Adapun definisinya adalah jual beli secara cicilan dalam jangka waktu tertentu di mana harga kredit lebih tinggi (bertambah) dari harga cash (naqd). Harga kredit 1 tahun berbeda dengan harga 2 tahun, dan seterusnya.

في البيع بالأجل أو بالتقسيط : أن السلعة اذا كان ثمنها حالا فانه ثمنه أرخص مما لو كان ثمنها أجلا أو مقسطا

Artinya : ”Dalam Jual Beli tangguh atau kredit bahwa suatu barang apabila dibeli secara kontan, harganya lebih murah dari pada jual beli secara tangguh/ kredit.”
Bai Taqsith sangat dibutuhkan masyarakat dan mendatangkan manfaat bagi pembeli & penjual. Konsumen bisa mendapatkan barang yang dibutuhkannya, meskipun ia tidak memiliki uang yang cukup untuk memilikinya secara kontan (bayaran penuh). Aplikasi bay’ taqsith mendatangkan kemudahan (taysir) bagi masyarakat untuk memenuhi kebutuhannya, karena banyak orang tidak mampu menyerahkan harga secara menyeluruh (dengan spot). Tetapi dengan cicilan, ia bisa memanfaatkan dan memiliki barang yang dibutuhkan.

تدل هذه الأية على أن البيع المؤجل والزيادة فى الثمن فيه ابتداء لأجل التـأجيل حلال بحكم الشرع

فلو باع شخص سلعة
 بثمن مؤجل زائد عن ثمنها حالا لجاز ذالك

Ayat ini menunjukkan bahwa jual beli kredit dengan penambahan harga (karena cicilan) adalah halal menurut hukum syariah. Maka, jika seseorang menjual suatu barang dengan harga yang dibayar secara tangguh (cicilan) dimana harganya bertambah dari harga cash (sekarang), maka jual beli itu boleh.

كما لو قال بعتكها بمائة حالة أو بمأئة و عشرين ألى سنة أو مقسطة فيجوز ذالك

Sebagaimana jika sesorang berkata, ”Saya menjual barang ini kepadamu seharga 100 cash (saat ini dibayar) atau 120 cicilan setahun (secara kredit), maka hal itu boleh.

أما وجه الدلالة فهو نزوله ردا على من شابه بين البيع (المؤجل) بالربا بداعي حصول الزيادة فيهما لقاء

الأجل فجواز الزيادة في البيع المؤجل هي سبب جادل به المشركون في أمر الربا و حرمتهذالك أنهم عدوا الزيا دة

فى الربا كالزيادة في الثمن بالبيع المؤجل.                                                       
 
والأية نص في التفريق بينهما.والحكم بالحل على البيع
 وبالحرمة على الربا

Jalan Pemikiran Dalil (Wajah Dilalah) : Bahwa ayat ini turun menolak pandangan orang yang menyamakan jual beli (kredit) dengan riba karena keduanya sama-sama menghasilkan tambahan (return), sebagai kompensai penundaan masa (time). Kebolehan tambahan (return) dalam jual beli kredit adalah unsur yang diperdebatkan orang-orang musyrik dalam masalah riba dan keharamannya. Mereka menganggap tambahan dalam riba sama dengan tambahan (keuntungan) dalam jual beli kredit. Ayat itu menjelaskan perbedaan di antara kedua, jual beli hukumnya halal, riba hukumnya haram.

والقول بمساواة البيع للربا تأتي عند زاعمها من حيث أن كلا منهما يأتي بالربا لكن الاول ربح السلعة

(العوض) والثاني الزيادة بلا عوض

Pendapat yang menyamakan jual beli dengan riba karena memandang tiap-tiap dari keduanya mendatangkan riba (tambahan). Padahal yang pertama (البيع) adalah keuntungan dari barang (iwadh) sedangkan yang kedua (الربا) adalah tambahan tanpa ‘iwadh.

تدل هذه الأية على أن البيع المؤجل والزيادة فى الثمن فيه ابتداء لأجل التـأجيل حلال بحكم الشرع

فلو باع شخص سلعة
 بثمن مؤجل زائد عن ثمنها حالا لجاز ذالك

Ayat ini menunjukkan bahwa jual beli kredit di mana harga bertambah karena penundaan waktu adalah halal menurut hukum syara’. Maka jika seseorang menjual barang dengan harga yang lebih tinggi dari harga cash karena kredit, maka jual beli tersebut boleh.

يجوز البيع بثمن الأجل أو مقسط ولو جعل البائع مقابل الأجلزيادة فى الثمن وبهذا قال جماهير العلماء منهم الأئمة

الأربعة وهو قول جماعة من السلف منهم عبدالله بن عباس و سعيد بن المسيب و طاوس بن كيسان والأوزاعى و

عطاء وقتادة والزهري والثورى والنخعى والحكم ين عتيبة و حماد بن أبي سليمان وغيرهم

Boleh jual beli kredit, sekalipun penjual menjadikan tambahan harga, sebagai kompensasi penundaan waktu. Hal ini merupakan pendapat jumhur ulama, di antaranya, Imam mazhab yang empat, juga pendapat jamaah ulama salaf, seperti Abdullah bin Abbas, Sa’id bin Musayyab, Thawus bin Kaisan, Al-Auza’iy, ‘Atha’, Qatadah, Imam Az-Zhuhry, Imam Ast-Taury, An-Nakha’iy, Hakam bin “Utaibah, Hammad bin Abi Sulaiman, dan lain lain.

Alasan Jual beli kredit dibolehkan

في البيع بالتقسيط تيسير على الناس ولو كان بزيادة على الثمن لأن كثيرا من الناس لا يستطيع بدل الثمن كله مرة

 واحدة لشراء ما يحتاج اليه

Pada jual beli kredit terdapat kemudahan bagi manusia, sekalipun bertambah harganya, karena banyak orang yang tidak sanggup membayar harga semuanya sekaligus untuk membeli apa yang ia butuhkan.

وأما منفعته للمشتري فهي حصوله على السلعة التي يحتاجها وانتفاعه بها مع أنه لا يملك دفع ثمنها في الحال ولو

أنه كلف بدفع ثمنها في الحال لما استطاع شراءها كل حياته

Adapun manfaatnya bagi pembeli ialah dia mendapatkan barang yang ia butuhkan dan memanfaatkannya, padahal ia tidak bisa menyerahkan harganya sekaligus saat itu. Jika ia dibebani untuk menyerahkan harganya semuanya secara cash, niscaya ia tidak sanggup membeli barang itu sepanjang hidupnya.
Ada Ulama yang melarang bay’ taqsith, yaitu Al-Jashshash dari mazhab Hanafi. Alasannya adalah Hadits dari Abi Hurairah bahwa Nabi Muhammad Saw bersabda :

من باع بيعتين في بيعة فله أوكسهما او الربا

“Barang siapa yang melakukan jual beli dalam dua jual beli, maka hak penjual adalah harga yang paling rendah, atau (jika tidak), maka riba”. Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Daud dan At-Tarmizi. Menurut buku “Al-Muamalah al-Maliyah al-Mushirah fi Dhou-il fiqh wa al-Syariah” tulisan Rawwas Qal’ah Jay, bahwa hadits tersebut tidak bisa dijadikan hujjah dan status haditsnya dha’if. Berikut ungkapannya:

ولا حجة لهم بهذا الحديث لأنه ضعيف قال في تحفة الأحوذي : ”تفرد محمد بن عمر بهذا اللفظ وقد روي هذا

الحديث عن عدة من الصحابة من طرق ليس في واحد منها هذا اللفظ فا الظاهر ان هذة الرواية بهذاللفظ ليست

صالحة للاحتجاج

 Hadits ini tidak bisa menjadi hujjah (dalil) mereka, karena status haditsnya dha’if. Pengarang kitab hadits “Tuhfah al-Ahwazy” mengatakan, “Redaksi (lapaz) hadits ini hanya diriwayatkan oleh Muhammad bin Umar sendirian. Sesungguhnya hadis ini diriwayatkan oleh banyak sahabat dari berbagai jalan, namun tidak seorangpun yang menyebutkan lapaz hadits seperti ini. Jelasnya, riwayat hadits dengan bunyi redaksi seperti ini tidak patut menjadi hujjah (dalil syariah). (Muhammad Rawwas Qal’ah, hlm.79-80). Makna Hadits:Seandainya hadits dhaif itu diakui sebagai dalil (sekalipun lemah), pengertiannya adalah sebagai berikut :

كأن يقول البائع : بعتك سلعتي هذه نقدا بمئة

و تقسيطا بمئة و عشرين . فيقول
 المشتري : اشتريت

ويتفرقان دون أن يتفقا على أي الصفقتين وقع البيع هل على الثمن الحال ام على الثمن التقسيط؟

Seperti seorang penjual berkata,” Saya jual barang saya ini secara cash 100 dan kredit 120”. Selanjutnya pembeli berkata, “Saya beli”. Mereka berdua berpisah di mana belum disepakati harga mana yang dipilih dalam dua alternatif jual beli tersebut, apakah jual beli secara cash atau kredit (Muhammad Rawwas, halaman 79). Penjelasan Muhammad Qal’ah tersebut sejalan dengan ucapan Ali bin Abi Thalib

من ساوم بثمنين احداهما عاجل والأخر نظرة

فليسم احداهما قبل صفقة

“Siapa saja yang menawar dengan dua harga, salah satunya kontan dan lainnya kredit, maka hendaknya dia memilih salah satunya. Sebelum berlangsung kesepakatan” (Buku Al-Siyasah al-Iqtishodiyah al-Mutsla, Abdur Rahman Al-Maliki)
 Perbedaan harga cicilan dari harga kontan, bukan termasuk riba. Ia adalah keuntungan dalam jual beli barang sebagai kompensasi tertahannya hak penjual dalam jangka waktu tertentu.
 Jika harga cash harus sama dengan harga kredit misalnya, sebuah rumah berharga Rp 300 juta cash dan harga kredit (10 tahun) juga Rp 300.juta,, maka hal itu tentu tidak logis, tidak rasional dan tidak adil. Tidak seorangpun penjual mau melakukan itu, karena hal itu merugikannya.
 Jadi perbedaan harga cash dan kredit adalah suatu kebolehan dan konsumen pun mendapatkan kemudahan mendapatkan barang yang dibutuhkannya meskipun uangnya jauh dari cukup.

الحاجة قد تنزل منزلة الضرورة

Kebutuhan terkadang menempatai posisi dharurah (kebutuhan primer) Jual Beli rumah/kenderaan secara kredit merupakan kebutuhan yang sangat penting (hajiyat), Maka ia dibenarkan dalam syariah. Jika seseorang membayar secara cash (naqd) saat itu, niscaya ia tidak akan pernah memiliki rumah sendiri seumur hidupnya. Sementara jika penjual diharapkan menjual rumah dengan harga yang “sama harga cash dan kredit”, niscaya penjual tidak mau.

وأما منفعته للمشتري فهي حصوله على السلعة التي يحتاجها وانتفاعه بها مع أنه لا يملك دفع ثمنها في الحال ولو

أنه كلف بدفع ثمنها في الحال لما استطاع شراءها كل حياته

Adapun manfaatnya bagi pembeli ialah dia mendapatkan barang yang ia butuhkan dan memanfaatkannya, padahal ia tidak bisa menyerahkan harganya sekaligus saat itu. Jika ia dibebani untuk menyerahkan harganya semuanya secara cash, niscaya ia tidak sanggup membeli barang itu sepanjang hidupnya.

0 komentar:

alipoetry © 2008 Por *Templates para Você*