Kamis, 03 Desember 2009

Evolusi: Mitos Penyembah Berhala



Evolusi: Mitos Penyembah Berhala


Sekitar lima ribu tahun yang lalu, di dataran subur di Timur Tengah, agama paganisme berkembang di Mesopotamia. Agama ini memunculkan sejumlah mitos dan takhayyul tentang asal-usul kehidupan dan alam semesta. Salah satunya adalah kepercayaan pada “evolusi”. Menurut legenda Sumeria, Enuma-Elish, kehidupan pertama muncul secara kebetulan di air dan kemudian berevolusi dari satu spesies ke spesies yang lain.

Bertahun-tahun kemudian, mitos evolusi tumbuh subur di peradaban pagan yang lain, yakni Yunani Kuno. Para filsuf Yunani, yang menyebut diri mereka sebagai “materialis”, hanya mengakui keberadaan materi dan menganggap materi sebagai sumber kehidupan. Karenanya, mereka menggunakan mitos evolusi, yang diwariskan bangsa Sumeria, untuk menjelaskan bagaimana makhluk hidup muncul menjadi ada. Demikianlah, Yunani Kuno menjadi jembatan penghubung bagi filsafat materialis dan mitos evolusi. Bangsa Romawi pagan kemudian mewarisi pemikiran ini.

Dua konsep dari kebudayaan penyembah berhala ini diperkenalkan ke dunia modern di abad kedelapan belas. Kaum intelektual Eropa yang terpengaruh oleh pemikiran Yunani kuno mempercayai paham ‘materialisme’ dengan keyakinan yang sama, yakni mereka sangat anti terhadap agama monoteisme. Buku karya tokoh materialis terkemuka, Baron d’Holbach, The System of Nature dianggap sebagai “rujukan utama ateisme”.

Dalam hal ini, ahli biologi Perancis, Jean Baptist Lamarck, adalah yang pertama memberikan penjelasan rinci tentang teori evolusi. Teori Lamarck, yang kemudian terbantahkan, menyatakan bahwa makhluk hidup berevolusi dari satu spesies ke spesies yang lain melalui perubahan sedikit demi sedikit dalam jangka waktu lama. Adalah Charles Darwin yang mengulangi dan menyebarluaskan pandangan Lamarck, meskipun agak berbeda.

Darwin mengemukakan pandangannya di Inggris tahun 1859, melalui penerbitan bukunya The Origin of Species. Buku Darwin pada hakikatnya adalah penjelasan rinci tentang mitos evolusi, yang awalnya diperkenalkan oleh bangsa Sumeria kuno. Teorinya menyatakan bahwa semua spesies yang berbeda berasal dari satu moyang yang sama, yang terbentuk dalam air secara kebetulan, yang darinya beragam spesies makhluk hidup muncul dalam rentang waktu yang lama.

Pernyataan Darwin ini tidaklah didasarkan atas bukti ilmiah, sehingga tak begitu dipercayai oleh para ilmuwan di zamannya. Para ahli paleontologi khususnya, menyadari bahwa keseluruhan teori tersebut sebagian besarnya adalah khayalan Darwin belaka. Catatan fosil menunjukkan bahwa makhluk hidup tidak mengalami proses evolusi dari bentuk sederhana ke bentuk lebih sempurna. Bahkan makhluk yang hidup ratusan juta tahun lalu memiliki tubuh yang sama lengkapnya dengan yang masih hidup sekarang. Tak ada jejak “bentuk transisi” yang menurut Darwin pernah ada dan yang dianggap menghubungkan satu spesies dengan yang lain. Di tahun-tahun berikutnya, pernyataan lain dari teori ini terbantahkan satu demi satu. Biokimia mengungkapkan bahwa kehidupan terlalu kompleks untuk dapat muncul secara kebetulan sebagaimana klaim Darwin. Bahkan diketahui bahwa pembentukan secara acak molekul paling sederhana tidaklah mungkin, apalagi sebuah sel hidup. Di sisi lain, anatomi menunjukkan bahwa makhluk hidup memiliki disain khas dan masing-masing diciptakan secara terpisah.

Singkatnya, teori Darwin tidak memiliki landasan ilmiah. Tapi, teori ini dengan cepat memperoleh dukungan politis dikarenakan “pembenaran ilmiah” yang diberikannya pada kekuatan yang berpengaruh di abad kesembilan belas.


Teori Darwin Tentang Ras Manusia
Pada tahun 1871, Darwin menerbitkan bukunya yang lain, The Descent of Man. Dalam buku ini ia menyatakan bahwa manusia berevolusi dari makhluk mirip kera. Darwin tak dapat memberikan bukti apapun yang mendukung klaimnya selain membuat sejumlah skenario khayalan.

Darwin juga memiliki pemikiran yang menarik. Ia berpendapat bahwa sejumlah ras berevolusi lebih cepat dan, karenanya, lebih maju dari yang lain; sedangkan ras-ras lain dianggapnya masih setingkat dengan kera.

Ada satu hal penting lagi tentang teori Darwin, ia membangun keseluruhan teorinya pada konsep “perjuangan untuk mempertahankan hidup”. Menurutnya, konflik sengit, perjuangan berdarah melingkupi alam kehidupan ini. Yang kuat selalu menang melawan yang lemah, dan ini mendorong yang kuat untuk berkembang.

Darwin menegaskan bahwa konflik serupa juga berlaku pada ras-ras manusia. Bahkan sub-judul dari bukunya "The Origin of Species: by way of Natural Selection or the Preservation of Favoured Races in the Struggle for Life" (Asal Usul Spesies: Melalui Seleksi Alam atau Pelestarian Ras-Ras Pilihan dalam Perjuangan Mempertahankan Hidup), dengan jelas mengungkap pandangan rasialnya.

Menurut Darwin, ras pilihan adalah ‘bangsa kulit putih Eropa’, sedangkan Ras Asia atau Afrika gagal dalam perjuangan mempertahankan hidup. Darwin melangkah lebih jauh, bahkan mengatakan bahwa ras-ras ini akhirnya akan dihapuskan sama sekali:

Di masa mendatang, tidak sampai berabad-abad lagi, ras-ras manusia beradab hampir dipastikan akan memusnahkan dan menggantikan ras-ras biadab di seluruh dunia. Pada saat yang sama, kera-kera mirip manusia...tak pelak lagi akan dimusnahkan.

Seperti terungkap jelas dalam pernyataan ini, Darwin adalah seorang rasis tulen yang meyakini keunggulan bangsa kulit putih. Ia meyakini bangsa kulit putih pertama-tama akan memperbudak, dan kemudian memusnahkan ras-ras kelas rendah.

Gagasan Darwin sungguh mendapat sambutan baik. Di zamannya, bangsa kulit putih sedang mencari teori untuk membenarkan tindakan biadab mereka.


Landasan Berpikir Kolonialisme

Sejak abad keenam belas, Eropa mulai menjajah berbagai belahan dunia. Penjajah pertama adalah bangsa Spanyol di bawah pimpinan Christopher Columbus. Dalam waktu singkat, penjajah Spanyol menyerbu Amerika Selatan. Mereka memperbudak penduduk asli, ras masyarakat yang sebelumnya hidup damai. Wilayah Amerika Selatan, yang kaya emas dan perak, dirampok oleh para penjarah ini. Penduduk asli yang berusaha melawan dibantai.

Menyusul Spanyol; Portugis, Belanda dan Inggris turut ambil bagian dalam memperebutkan daerah jajahan. Di abad kesembilan belas, Inggris menjadi imperium kolonial terbesar di dunia. Dari India hingga Amerika Latin, imperium Inggris mengeruk habis sumber-sumber kekayaan alam. Bangsa kulit putih menjarah dunia demi kepentingannya sendiri.

Tentu saja kaum penjajah ini tak ingin dikenang sepanjang sejarah sebagai “penjarah”. Karenanya, mereka berusaha mendapatkan pembenaran bagi tindakannya ini. Mereka berdalih dengan menganggap bangsa terjajah sebagai “kaum primitif atau terbelakang”, bahkan “makhluk mirip binatang”. Pandangan ini pertama kali dikemukakan di masa awal penjajahan, masa ketika Christopher Columbus berlayar menuju Amerika. Dengan menganggap penduduk asli Amerika bukan manusia murni, tapi spesies binatang yang telah berkembang, penjajah Spanyol membenarkan perbudakan yang mereka lakukan.

Saat peristiwa ini terjadi, dalih tersebut tidak mendapat dukungan luas. Sebab, waktu itu masyarakat Eropa secara luas masih percaya bahwa semua manusia diciptakan sama oleh Tuhan dan semuanya berasal dari moyang yang sama, yakni Nabi Adam.

Namun, segalanya berubah di abad kesembilan belas. Tumbuh suburnya paham materialime menyebabkan masyarakat mulai mengabaikan kenyataan bahwa manusia diciptakan oleh Tuhan. Ini juga berarti kelahiran paham rasisme.

Landasan ilmiah rasisme adalah teori evolusi Darwin. Ahli antropologi India, Lalita Vidyarthi menyatakan:
Teori Darwin tentang “kelangsungan hidup bagi yang terkuat“ disambut hangat oleh ilmuwan sosial masa itu, dan mereka percaya bahwa manusia meraih tangga evolusi yang berbeda, yang berpuncak pada peradaban bangsa kulit putih. Hingga paruh kedua abad ke-19, rasisme diterima sebagai fakta oleh mayoritas ilmuwan barat.

Dengan pandangan rasial seperti ini, Darwin memberikan dukungan penuh bagi penjajahan oleh bangsa Eropa. Imperialisme Inggris zaman Victoria mengambil teori Darwin sebagai dasar dan pembenaran ilmiahnya.
Di jaman ini, sejumlah kalangan berpandangan bahwa teori evolusi yang dirumuskan oleh Charles Darwin tidaklah bertentangan dengan agama. Ada juga yang sebenarnya tidak meyakini teori evolusi tersebut akan tetapi masih juga ikut andil dalam mengajarkan dan menyebarluaskannya. Hal ini tidak akan terjadi seandainya mereka benar-benar memahami teori tersebut. Ini adalah akibat ketidakmampuan dalam memahami dogma utama Darwinisme, termasuk pandangan paling berbahaya dari teori tersebut yang diindoktrinasikan kepada masyarakat. Oleh karenanya, bagi mereka yang beriman akan adanya Allah sebagai satu-satunya Pencipta makhluk hidup, namun pada saat yang sama berpandangan bahwa "Allah menciptakan beragam makhluk hidup melalui proses evolusi," hendaklah mempelajari kembali dogma dasar teori tersebut. Tulisan ini ditujukan kepada mereka yang mengaku beriman akan tetapi salah dalam memahami teori evolusi. Di sini diuraikan sejumlah penjelasan ilmiah dan logis yang penting yang menunjukkan mengapa teori evolusi tidak sesuai dengan Islam dan fakta adanya penciptaan.

Dogma dasar Darwinisme menyatakan bahwa makhluk hidup muncul menjadi ada dengan sendirinya secara spontan sebagai akibat peristiwa kebetulan. Pandangan ini sama sekali bertentangan dengan keyakinan terhadap adanya penciptaan alam oleh Allah.

Kesalahan terbesar dari mereka yang meyakini bahwa teori evolusi tidak bertentangan dengan fakta penciptaan adalah anggapan bahwa teori evolusi adalah sekedar pernyataan bahwa makhluk hidup muncul menjadi ada melalui proses evolusi dari satu bentuk ke bentuk yang lain. Oleh karenanya, mereka mengatakan: "Bukankah tidak ada salahnya jika Allah menciptakan semua makhluk hidup melalui proses evolusi dari bentuk yang satu ke bentuk yang lain; apa salahnya menolak hal ini?" Akan tetapi, sebenarnya terdapat hal yang sangat mendasar yang telah diabaikan: perbedaan mendasar antara para pendukung evolusi (=evolusionis) dan pendukung penciptaan (=kreasionis) bukanlah terletak pada pertanyaan apakah "makhluk hidup muncul masing-masing secara terpisah atau melalui proses evolusi dari bentuk satu ke bentuk yang lain. Pertanyaan yang pokok adalah "apakah makhluk hidup muncul menjadi ada dengan sendirinya secara kebetulan akibat rentetan peristiwa alam, atau apakah makhluk hidup tersebut diciptakan secara sengaja?"

Teori evolusi, sebagaimana yang diketahui, mengklaim bahwa senyawa-senyawa kimia inorganik dengan sendirinya datang bersama-sama pada suatu tempat dan waktu secara kebetulan dan sebagai akibat dari fenomena alam yang terjadi secara acak. Mula-mula senyawa-senyawa ini membentuk molekul pembentuk kehidupan, seterusnya terjadi rentetan peristiwa yang pada akhirnya membentuk kehidupan. Oleh sebab itu, pada intinya anggapan ini menerima waktu, materi tak hidup dan unsur kebetulan sebagai kekuatan yang memiliki daya cipta. Orang biasa yang sempat membaca dan mengerti literatur teori evolusi, paham bahwa inilah yang menjadi dasar klaim kaum evolusionis. Tidak mengherankan jika Pierre Paul Grassé, seorang ilmuwan evolusionis, mengakui evolusi sebagai teori yang tidak masuk akal. Dia mengatakan apa arti dari konsep "kebetulan" bagi para evolusionis:

"…'[Konsep] kebetulan' seolah telah menjadi sumber keyakinan [yang sangat dipercayai] di bawah kedok ateisme. Konsep yang tidak diberi nama ini secara diam-diam telah disembah."
(Pierre Paul Grassé, Evolution of Living Organisms, New York, Academic Press, 1977, p.107)

Akan tetapi pernyataan bahwa kehidupan adalah produk samping yang terjadi secara kebetulan dari senyawa yang terbentuk melalui proses yang melibatkan waktu, materi dan peristiwa kebetulan, adalah pernyataan yang tidak masuk akal dan tidak dapat diterima oleh mereka yang beriman akan adanya Allah sebagai satu-satunya Pencipta seluruh makhluk hidup. Kaum mukmin sudah sepatutnya merasa bertanggung jawab untuk menyelamatkan masyarakat dari kepercayaan yang salah dan menyesatkan ini; serta mengingatkan akan bahayanya.

Pernyataan tentang "adanya kebetulan" yang dikemukakan teori evolusi dibantah oleh ilmu pengetahuan.
Fakta lain yang patut mendapat perhatian khusus dalam hal ini adalah bahwa berbagai penemuan ilmiah ternyata malah sama sekali bertentangan dengan klaim-klaim kaum evolusionis yang mengatakan bahwa "kehidupan muncul sebagai akibat dari serentetan peristiwa kebetulan dan fenomena alamiah." Ini dikarenakan dalam kehidupan terdapat banyak sekali contoh adanya rancangan (design) yang disengaja dengan bentuk yang sangat rumit dan telah sempurna. Bahkan sel pembentuk suatu makhluk hidup memiliki rancangan yang sangat menakjubkan yang dengan telak mematahkan konsep "kebetulan."

Perancangan dan perencanaan yang luar biasa dalam kehidupan ini sudah pasti merupakan tanda-tanda penciptaan Allah yang khas dan tak tertandingi, serta ilmu dan kekuasaan-Nya yang Tak Terhingga.

Usaha para evolusionis untuk menjelaskan asal-usul kehidupan dengan menggunakan konsep kebetulan telah dibantah oleh ilmu pengetahuan abad 20. Bahkan kini, di abad 21, mereka telah mengalami kekalahan telak. (Silahkan baca buku Blunders of Evolutionists, karya Harun Yahya, terbitan Vural Publishing). Jadi, alasan mengapa mereka tetap saja menolak adanya penciptaan oleh Allah kendatipun telah melihat fakta ini adalah adanya keyakinan buta terhadap atheisme.


Allah tidak menciptakan makhluk hidup melalui proses evolusi

Oleh karena fakta yang menunjukkan adanya penciptaan atau rancangan yang disengaja pada kehidupan adalah nyata, satu-satunya pertanyaan yang masih tersisa adalah "melalui proses yang bagaimanakah makhluk hidup diciptakan." Di sinilah letak kesalahpamahaman yang terjadi di kalangan sejumlah kaum mukmin. Logika keliru yang mengatakan bahwa "Makhluk hidup mungkin saja diciptakan melalui proses evolusi dari satu bentuk ke bentuk lain" sebenarnya masih berkaitan dengan bagaimana proses terjadinya penciptaan makhluk hidup berlangsung.

Sungguh, jika Allah menghendaki, Dia bisa saja menciptakan makhluk hidup melalui proses evolusi yang berawal dari sebuah ketiadaan sebagaimana pernyataan di atas. Dan oleh karena ilmu pengetahuan telah membuktikan bahwa makhluk hidup berevolusi dari satu bentuk ke bentuk yang lain, kita bisa mengatakan bahwa, "Allah menciptakan kehidupan melalui proses evolusi." Misalnya, jika terdapat bukti bahwa reptil berevolusi menjadi burung, maka dapat kita katakan,"Allah merubah reptil menjadi burung dengan perintah-Nya "Kun (Jadilah)!". Sehingga pada akhirnya kedua makhluk hidup ini masing-masing memililiki tubuh yang dipenuhi oleh contoh-contoh rancangan yang sempurna yang tidak dapat dijelaskan dengan konsep kebetulan. Perubahan rancangan ini dari satu bentuk ke bentuk yang lain - jika hal ini memang benar-benar terjadi - akan sudah barang tentu bukti lain yang menunjukkan penciptaan.

Akan tetapi, yang terjadi ternyata bukan yang demikian. Bukti-bukti ilmiah (terutama catatan fosil dan anatomi perbandingan) justru menunjukkan hal yang sebaliknya: tidak dijumpai satu pun bukti di bumi yang menunjukkan proses evolusi pernah terjadi. Catatan fosil dengan jelas menunjukkan bahwa spesies makhluk hidup yang berbeda tidak muncul di muka bumi dengan cara saling berevolusi dari satu spesies ke spesies yang lain. Tidak ada perubahan bentuk sedikit demi sedikit dari makhluk hidup yang satu ke makhluk hidup yang lain dalam jangka waktu yang lama. Sebaliknya, spesies makhluk hidup yang berbeda satu sama lain muncul secara serentak dan tiba-tiba dalam bentuknya yang telah sempurna tanpa didahului oleh nenek moyang yang mirip dengan bentuk-bentuk mereka. Burung bukanlah hasil evolusi dari reptil, dan ikan tidak berevolusi menjadi hewan darat. Tiap-tiap filum makhluk hidup diciptakan masing-masing secara terpisah dengan ciri-cirinya yang khas. Bahkan para evolusionis yang paling terkemuka sekalipun telah terpaksa menerima kenyataan tersebut dan mengakui bahwa hal ini membuktikan adanya fakta penciptaan. Misalnya, seorang ahli palaentologi yang juga seorang evolusionis, Mark Czarnecki mengaku sebagaimana berikut:

"Masalah utama yang menjadi kendala dalam pembuktian teori evolusi adalah catatan fosil; yakni sisa-sisa peninggalan spesies punah yang terawetkan dalam lapisan-lapisan geologis Bumi. Catatan [fosil] ini belum pernah menunjukkan bukti-bukti adanya bentuk-bentuk transisi antara yang diramalkan Darwin - sebaliknya spesies [makhluk hidup] muncul dan punah secara tiba-tiba, dan keanehan ini telah memperkuat argumentasi kreasionis [=mereka yang mendukung penciptaan] yang mengatakan bahwa tiap spesies diciptakan oleh Tuhan (Mark Czarnecki, "The Revival of the Creationist Crusade", MacLean's, 19 January 1981, p. 56)

Khususnya selama lima puluh tahun terakhir, perkembangan di berbagai bidang ilmu pengetahuan seperti palaentologi, mikrobiologi, genetika dan anatomi perbandingan, dan berbagai penemuan menunjukkan bahwa teori evolusi tidak lah benar. Sebaliknya makhluk hidup muncul di muka bumi secara tiba-tiba dalam bentuknya yang telah beraneka ragam dan sempurna. Oleh karena itu, tidak ada alasan untuk mengatakan bahwa Allah menggunakan proses evolusi dalam penciptaan. Allah telah menciptakan setiap makhluk hidup masing-masing secara khusus dan terpisah, dan pada saat yang sama, dengan perintah-Nya "Kun (Jadilah)!" Dan ini adalah sebuah fakta yang nyata dan pasti.


Kesimpulan

Sungguh sangat penting bagi orang-orang yang beriman untuk senantiasa waspada dan berhati-hati terhadap sistem ideologi yang ditujukan untuk melawan Allah dan din-Nya. Selama 150 tahun, teori evolusi atau Darwinisme telah menjadi dalil serta landasan berpijak bagi semua ideologi anti agama yang telah menyebabkan tragedi bagi kemanusiaan seperti fasisme, komunisme dan imperialisme; serta melegitimasi berbagai tindak kedzaliman tak berperikemanusiaan oleh mereka yang mengadopsi berbagai filsafat ini. Oleh karenanya, tidak sepatutnya kenyataan dan tujuan yang sesungguhnya dari teori ini diabaikan begitu saja. Bagi setiap orang yang mengaku muslim, ia memiliki tanggung jawab utama dalam membuktikan kebohongan setiap ideologi anti agama yang menolak keberadaan Allah dengan perjuangan pemikiran dalam rangka menghancurkan kebatilan dan menyelamatkan masyarakat dari bahayanya.

Darwinisme mengemukakan bahwa terdapat fosil-fosil bentuk peralihan, namun kenyataannya tidak ditemukan ... Darwinisme mengemukakan bukti ilmiah yang tidak absah ... Meskipun seluruh fosil yang telah ditemukan dengan jelas membuktikan penciptaan, Darwinisme bersikukuh menyatakan hal yang sama sekali bertolak belakang ... Teori ini berupaya meyakinkan orang untuk mempercayai bahwa para seniman, ilmuwan dan profesor dapat terbentuk sebagai hasil dari ketidaksengajaan, melalui pembentukan protein-protein, yang memiliki peluang pembentukan secara kebetulan sebesar 1 per 10950, dengan kata lan "sebuah kemustahilan". Darwinisme bahkan berusaha menjadikan orang percaya bahwa para profesor yang terbentuk dengan cara seperti ini mendirikan universitas-universitas untuk mengkaji bagaimana diri mereka sendiri muncul menjadi ada secara tidak disengaja atau kebetulan.

Darwinisme menganggap kromosom di dalam sel makhluk hidup yang mengandung kode informasi lebih banyak daripada sebuah perpustakaan raksasa sebagai buah karya peristiwa kebetulan semata ... Teori ini menyatakan bahwa kekuatan mahahebat dari peristiwa kebetulan menjadikan atom-atom yang tidak dapat melihat, mendengar dan berpikir berubah menjadi manusia yang dapat melihat, mendengar, merasakan, berpikir dan berkesadaran… Bagi Darwinisme, peristiwa kebetulan atau ketidaksengajaan adalah tuhan yang melakukan karya-karya luar biasa. Dalam uraian ini akan Anda pahami betapa mantra hitam Darwinisme ini telah terhapuskan.

1. Darwinisme tidak lagi mampu mengatakan bahwa protein dapat terbentuk melalui evolusi. Sebab peluang terbentuknya satu protein saja dengan urutan yang benar secara acak  adalah 1 per 10950, sebuah angka yang menunjukkan kemustahilan secara matematis.

2. Darwinisme tidak lagi merujuk kepada fosil-fosil sebagai bukti terjadinya evolusi. Hal ini dikarenakan seluruh penggalian yang dilakukan di seluruh dunia dari pertengahan abad ke-19 hingga hari ini, tak satu pun dari "bentuk-bentuk peralihan" yang menurut para evolusionis seharusnya ada dalam jumlah jutaan ternyata tidak pernah ditemukan. Telah disadari bahwa bentuk-bentuk "mata rantai" ini tidak lain hanyalah sebuah kisah khayalan.

3. Para evolusionis berputus asa di hadapan fosil-fosil yang berjumlah tak berhingga yang telah berhasil digali hingga saat ini. Hal ini disebabkan semua fosil-fosil ini memiliki seluruh ciri-ciri yang mendukung dan membuktikan penciptaan.

4. Para evolusionis tidak lagi mampu menyatakan bahwa Archaeopteryx adalah nenek moyang burung, sebab penelitian terkini terhadap fosil-fosil Archaeopteryx telah sama sekali menggugurkan pernyataan bahwa Archaeopteryx adalah makhluk "setengah-burung." Telah diketahui bahwa Archaeopteryx memiliki struktur anatomi dan otak yang sempurna yang diperlukan untuk terbang, dengan kata lain Archaeopteryx adalah seekor burung sejati, dan "dongeng khayal tentang evolusi burung" tidak lagi dapat dipertahankan keabsahannya.

5. Darwinisme tidak lagi dapat menggunakan urutan palsu yang dikenal sebagai "silsilah evolusi kuda." Telah diketahui bahwa urutan silsilah palsu ini tersusun dari sejumlah spesies terpisah yang hidup di zaman yang berbeda dan di wilayah yang berbeda.

6. Darwinisme tidak lagi dapat menggunakan fosil yang dikenal sebagai Coelocanth untuk mendukung dongeng khayal peralihan dari air ke darat, sebab sejak pernyataan tersebut dikemukakan diketahui bahwa makhluk ini, yang sebelumnya dikukuhkan sebagai bentuk peralihan yang punah, ternyata ikan yang menghuni dasar lautan yang kini masih hidup, dan lebih dari 200 ikan hidup dari jenis tersebut hingga kini telah berhasil ditangkap.

7. Darwinisme tidak mampu lagi menyatakan bahwa makhluk hidup seperti Ramapithecus dan serangkaian Australopithecus (A. Bosei, A. Robustus, A. Aferensis, Africanus dst.) adalah para nenek moyang manusia. Hal ini disebabkan penelitian terhadap fosil-fosil ini telah memperlihatkan bahwa semua makhluk ini sama sekali tidak ada kaitannya dengan manusia dan merupakan spesies-spesies kera sejati yang punah.

8. Darwinisme tidak akan lagi mampu membohongi masyarakat dengan gambar-gambar rekonstruksi [reka ulang], sebab para ilmuwan telah dengan jelas mengungkapkan bahwa rekonstruksi ini, yang didasarkan pada sisa-sisa tubuh hewan yang pernah hidup di masa lalu, tidaklah bernilai ilmiah dan sama sekali tidak dapat dipercaya.

9. Darwinisme tidak mampu lagi mengemukakan "Manusia Piltdown" sebagai bukti bagi evolusi, sebab penelitian menunjukkan bahwa fosil seperti "Manusia Piltdown" tidak pernah ada dan selama 40 tahun masyarakat telah dibohongi dengan sepotong rahang orang hutan yang direkatkan pada sebongkah tengkorak manusia.

10. Darwinisme tidak dapat lagi menyatakan bahwa "Manusia Nebraska" dan keluarganya membenarkan evolusi, sebab telah dikukuhkan bahwa fosil-fosil gigi geraham yang dijadikan bukti bagi kisah "Manusia Nebraska" ternyata milik sejenis babi liar yang telah punah.

11. Darwinisme tidak lagi mampu menyatakan bahwa seleksi alam mendorong terjadinya evolusi, sebab telah dibuktikan secara ilmiah bahwa mekanisme yang dimaksud tidak dapat menyebabkan makhluk hidup berevolusi dan tidak dapat menyebabkan mereka memperoleh sifat-sifat baru.

Para pendukung Darwinisme telah melakukan banyak sekali penyebaran informasi keliru sebagaimana disebutkan di atas, dan waktu telah mengungkap bahwa semua hal tersebut tidaklah benar. Misalnya, telah diketahui bahwa mutasi yang dulunya dinyatakan memiliki daya evolusi ternyata malah sama sekali bersifat merusak, dan berdampak menimbulkan penyakit, cacat atau kematian, dan bukan perbaikan... Telah diketahui bahwa struktur pada embrio manusia yang dulunya dikatakan oleh para Darwinis sebagai insang ternyata adalah cikal bakal saluran telinga bagian tengah, kelenjar paratiroid and kelenjar timus. Telah terungkap pula bahwa perubahan-perubahan telah sengaja dilakukan pada gambar-gambar embrio untuk memberi dukungan pada evolusi. Telah diketahui bahwa informasi genetik bagi kekebalan terhadap berbagai antibiotik yang terdapat pada bakteri ternyata telah ada pada DNA mereka "sejak saat bakteri tersebut ada di dunia ini"..

Melalui serangkai pembuktian ilmiah para pakar, buku-buku Harun Yahya menunjukkan pada dunia, teori evolusi ternyata cuma angan-angan kosong Darwin dan para pengikutnya. Lebih dari itu, teori Darwin telah menginspirasikan terjadinya peperangan dan pembantaian bermotif rasisme dan fasisme sebagaimana yang dilakukan Hitler dan Mussolini.

Anda punya hubungan kekerabatan dengan kera? Atau Anda punya nenek moyang yang sama dengan gorila? Anda yang mengimani Al-Quran pasti akan berkata tegas, "Tidak!" Karena Allah melalui kitab suci-Nya telah menjelaskan bahwa setiap manusia di muka bumi adalah keturunan manusia pertama yang bernama Adam 'alaihi salam. Dan Adam tidak memiliki hubungan kekerabatan apapun dengan kera serta hewan manapun. Ia adalah manusia pertama yang langsung diciptakan oleh Allah. Adam tidak memiliki ayah, ibu serta saudara. Yang ia miliki hanyalah istri, anak dan keturunannya.

Tetapi mereka yang 'mengimani' teori evolusi percaya bahwa mereka punya hubungan kekerabatan dengan kera, beruk, simpanse, gorila dan orangutan. Bahkan kalangan itu juga percaya bahwa mereka berkerabat dengan anjing, tikus, kecoak, cacing, pohon nangka, rumput, jamur dan bakteri. Dan semuanya itu merupakan keturunan dari makhluk bersel satu semacam amuba dan protozoa.

Bicara tentang evolusi tidak akan lepas dari peran seorang petualang asal Inggris bernama Charles Robert Darwin (1809-1892). Oleh banyak evolusionis (penganut teori evolusi), Darwin dianggap sebagai Bapak Evolusi. Meski sesungguhnya kepercayaan bahwa satu spesies merupakan keturunan spesies lain sudah dikemukakan oleh ilmuwan-ilmuwan lain sebelumnya, seperti biologi Perancis Jean Baptiste Lamarck. Bahkan kepercayaan semacam itu diketahui sudah ada sejak jaman purba. Bangsa Sumeria yang hidup beberapa alaf (milenium) silam di Mesopotamia diketahui memiliki kepercayaan tentang proses terciptanya dewa mereka yang muncul tiba-tiba dari banjir besar yang kemudian berevolusi menjadi alam semesta dan makhluk hidup di dalamnya.

Sebagai tokoh evolusi Darwin tidak pernah mengenyam pendidikan formal di bidang biologi, tetapi ia memiliki ketertarikan yang besar pada alam dan makhluk hidup. Minat itu mendorongnya untuk ikut serta dalam ekspedisi pelayaran pada tahun 1832, mengarungi berbagai belahan dunia selama lima tahun.

Darwin muda sangat takjub melihat beragam spesies makhluk hidup terutama jenis-jenis burung finch tertentu di kepulauan Galapagos. Ia mengira bahwa variasi pada paruh burung-burung itu disebabkan oleh adaptasi mereka terhadap habitat. Dengan pemikiran ini, ia menduga bahwa asal-usul kehidupan dan spesies berdasar pada konsep adaptasi terhadap lingkungan. Menurut Darwin, aneka spesies makhluk hidup tidak diciptakan secara terpisah oleh Tuhan, tetapi berasal dari nenek moyang yang sama dan menjadi berbeda satu sama lain akibat kondisi alam.

Selanjutnya Darwin menyatakan, individu-individu yang beradaptasi pada habitat mereka dengan cara terbaik akan menurunkan sifat-sifat mereka kepada generasi berikutnya. Sifat-sifat yang menguntungkan ini lama-kelamaan terakumulasi dan mengubah suatu individu menjdi spesies yang sama sekali berbeda dengan nenek moyangnya.

Darwin menamakan proses tersebut "evolusi melalui seleksi alam". Ia mengira telah menemukan "asal-usul spesies": suatu spesies berasal dari spesies lain. Darwin kemudian mempublikasikan pandangannya ini dalam sebuah buku berjudul "The Origin of Species, by Means of Natural Selection" (Asal-usul Spesies, melalui Seleksi Alam).

Sejak awal digulirkan teori itu sudah menuai banyak kritik dan sanggahan, khususnya dari kalangan agamawan, karena apa yang dipaparkan Darwin bertentangan dengan ajaran Yahudi, Kristen dan Islam. Pandangan agamawan, setiap jenis makhluk diciptakan masing-masing oleh Tuhan, bukan merupakan keturunan dari jenis yang lain.

Seiring dengan perjalanan waktu, kritik dan sanggahan tidak hanya berasal dari kalangan agamawan, tetapi juga berasal dari kalangan ilmuwan berdasarkan bukti-bukti ilmiah yang mereka dapatkan. Bahkan kerap terjadi, bukti-bukti ilmiah yang menggugurkan teori evolusi ditemukan oleh para evolusionis sendiri. Sudah puluhan buku dan ratusan tulisan ilmuwan dipublikasikan untuk menjelaskan kelemahan teori itu.

Darwin sendiri sejak awal sudah menyadari bahwa teorinya menghadapi banyak masalah. Ia mengakui ini dalam bukunya pada bab Difficulties of The Theory. Kesulitan itu terutama pada catatan fosil dan organ-organ rumit mahkluk hidup (misalnya mata) yang tidak mungkin dijelaskan dengan konsep terjadi secara kebetulan dan naluri makhluk hidup. Darwin berharap kesulitan-kesulitan itu akan teratasi oleh penemuan-penemuan baru. Namun yang terjadi teori itu bukannya menjadi semakin menguat, tetapi malah semakin hari semakin lemah dan nyaris runtuh.

Masalahnya publikasi yang mengkritik dan menyanggah teori evolusi kalah gencar dibandingkan publikasi yang mempropagandakan teori kontroversial itu. Berbagai media massa sekuler di berbagai belahan dunia telah menjadi pendukung utama indoktrinasi dogma evolusi ke tengah masyarakat luas. Terlebih lagi, dunia pendidikan di berbagai negeri termasuk dunia pendidikan di Indonesia cenderung berpihak kepada teori evolusi.

Dalam kurikulum pendidikan biologi SMU di negeri ini misalnya, pelajaran tentang evolusi mendapat jatah dua bab (bab Asal Usul Kehidupan dan bab Evolusi). Di tingkat perguruan tinggi, khususnya di Fakultas MIPA Jurusan Biologi, teori evolusi diajarkan dalam satu mata kuliah khusus. Isinya jelas mempropagandakan teori ini tanpa mengimbangi dengan kritik dan sanggahan terhadapnya. Seolah sudah menjadi sebuah aksioma yang tak terbantahkan.

Untuk merevisinya tidaklah gampang, karena perlu upaya bersama dari kalangan biolog dan para perumus kurikulum. Seperti diungkapkan Dr Taufikurrahman, Ketua Departemen Biologi ITB, baik untuk program S1 maupun S2, mata kuliah evolusi masih menggunakan pendekatan dogmatis yang menihilkan peran Tuhan sebagai Sang Pencipta. "Untuk mereformasinya perlu ada kesepakatan bersama yang belum tercapai hingga saat ini," jelas Taufik, biolog yang memberikan Kata Pengantar pada buku "Keruntuhan Teori Evolusi".

Menyadari hal demikian, seorang cendekiawan asal Turki bernama Harun Yahya, selama dua puluh tahun terakhir bersama kelompoknya aktif melakukan riset dengan mengumpulkan berbagai bukti ilmiah yang menyanggah teori evolusi dan mempublikasikannya secara besar-besaran ke seluruh dunia. Berbagai bukunya telah disalin utuh ke situs internetnya (www.hyahya.org dan www.harunyahya.com), sehingga siapapun bisa membaca sepuasnya. Dan sebagian sudah diterjemahkan ke berbagai bahasa seperti bahasa Indonesia, Malaysia, Inggris, Perancis, Jerman, Italia, Rusia, Spanyol, Arab, Portugis, Albania, Serbo-Kroasia (Bosnia), Polandia dan Urdu (India).

Buku sanggahannya terhadap teori evolusi yang berjudul The Evolution Deceit oleh penerbit Dzikra telah diterbitkan ke bahasa Indonesia dengan judul "Keruntuhan Teori Evolusi" (terjemahan yang lebih tepat: Kebohongan Teori Evolusi, red). Tentu saja isinya tidak sekedar sanggahan tanpa alasan. Ada setumpuk analisis dan bukti-bukti ilmiah yang dikumpulkan dari berbagai buku dan tulisan para pakar internasional yang menyanggah dan meruntuhkan teori evolusi, termasuk dari kalangan evolusionis sendiri.

Sebenarnya sebelum The Evolution Deceit diterjemahkan, Penerbit Mizan telah menerbitkan buku bertajuk "Evolusi Ruhani: Kritik Perenial atas Teori Darwin" (1996) yang merupakan terjemahan dari Critique of Evolutionary Theory. Isinya merupakan kumpulan karangan delapan orang pakar dari berbagai bidang ilmu yang mengkritik teori evolusi. Tercatat di antaranya Seyyed Hossein Nasr, Osman Bakar, WR Thompson, Martin Lings dan Giuseppe Sermonti.

Kritik-kritik mereka hampir sama kerasnya dengan yang dilakukan Harun Yahya. Osman Bakar misalnya, mengatakan, "Kita tak ragu lagi jika teori evolusi diperbolehkan diuji secara kritis dan terbuka oleh semua pihak yang berkepentingan, teori evolusi akan segera runtuh." Di akhir tulisannya Osman mengutip Tom Bethel, "Teori Darwin, saya yakin, sedang mendekati kejatuhannya Ia sedang dalam proses pembuangannya."
Meski kritiknya hampir sama keras, buku "Keruntuhan Teori Evolusi" karya Harun Yahya nampaknya akan lebih diminati pasar karena sejumlah alasan, antara lain tampilannya yang lebih menarik serta bahasanya yang lebih mudah dipahami masyarakat awam. Oleh penerbit Dzikra, buku Harun Yahya itu diterbitkan dengan mutu kertas yang baik serta dipenuhi dengan gambar-gambar warna-warni yang tajam, sehingga harganya relatif lebih mahal daripada buku lain seukurannya. Meski begitu, seperti dijelaskan Halfino Berry, editor Dzikra, animo masyarakat terhadap buku tersebut cukup baik. "Kami berusaha menampilkan buku Harun Yahya sebaik edisi aslinya. Alhamdulillah dalam waktu sekitar 4 bulan cetakan pertama sebanyak 2700 eksemplar sudah terjual. Dan saat ini sedang kami cetak ulang," jelas Halfino.

Buku Harun Yahya yang berjudul Deep Thinking telah diterjemahkan oleh Penerbit Robbani Press dengan judul "Bagaimana Seorang Muslim Berfikir" lebih laku lagi. Menurut manajer pemasaran Robbani Press, Muhammad Abduh, buku itu sangat diminati masyarakat. Dalam beberapa bulan ini buku Deep Thinking telah mengalami dua kali cetak ulang. "Sekarang kami sedang memproses cetakan ketiga," kata Abduh.


Materialisme, Rasisme, Agnotisisme dan Kloning

Banyak hal yang menarik dari buku "Keruntuhan Teori Evolusi" itu. Salah satunya adalah penjelasan Harun tentang hubungan yang erat antara teori evolusi dengan materialisme. Filsafat materialisme menyatakan bahwa keberadaan alam semesta tidak berawal dan tidak diciptakan. Artinya paham itu menolak mentah-mentah eksistensi Tuhan. Oleh Darwin filsafat yang demikian itu kemudian ia terapkan dalam menjelaskan fenomena alam.

Maka tak heran bila para pendukung filsafat materialisme, terutama penganut Marxisme, terus-menerus membela Darwinisme, meskipun teori itu bertentangan dengan logika sekalipun. Karl Marx, pencetus komunisme, pernah memuji buku karya Darwin The Origin of Species sebagai buku yang berisi landasan sejarah alam bagi pandangan mereka. Begitu simpatinya Marx pada Darwin sehingga ia menghadiahi Darwin buku Das Kapital disertai catatan kecil, "Dari seorang pengagum setia kepada Charles Darwin."

Menurut Britannica Encyclopedia, Darwin diketahui punya semangat yang senada dengan kaum materialis dan atheis, yakni agnotisisme, suatu paham yang tidak meyakini keberadaan Tuhan, tapi tidak juga menyangkal keberadaan Tuhan. Mereka orang yang mengaku 'tidak tahu' tentang ada atau tidak adanya Tuhan.

Buku Harun Yahya juga mengungkap aspek lain dari Darwin yang tidak banyak diketahui orang, yakni pandangan rasisnya. Darwin menganggap ras kulit putih Eropa lebih maju dibandingkan ras-ras lainnya. Ras-ras lain yang terbelakang, menurut Darwin, masih memiliki sifat kera. Dalam bukunya The Descent of Man, yang diterbitkannya setelah The Origin of Species, Darwin berpendapat bahwa orang-orang kulit hitam dan orang Aborigin di Australia sama dengan gorila, dan lambat laun akan disingkirkan oleh 'ras-rasa beradab'. "Di masa mendatang, tidak sampai berabad-abad lagi, ras-ras manusia beradab hampir dipastikan akan memusnahkan dan menggantikan ras-ras biadab di seluruh dunia," tulisnya.

Pandangan rasisme Darwin membuat teman dekatnya, Profesor Adam Sedgawik, merasa sangat khawatir terhadap dampak yang ditimbulkannya. "Jika buku ini diterima masyarakat luas, (maka buku) ini akan memunculkan kebiadaban ras manusia yang belum pernah tersaksikan sebelumnya.

Benar saja. Seperti dikatakan Catur Sriherwanto, penerjemah buku "Keruntuhan Teori Evolusi", pandangan Darwin yang rasis itu telah melahirkan berbagai bencana kemanusiaan selama abad 20 dan sekarang. Misalnya, Adolf Hitler pemimpin Nazi di Jerman serta Benitto Mussolini pemimpin fasis di Italia melakukan peperangan dan pembantaian kepada masyarakat non Arya dan non Eropa diilhami oleh ajaran rasisme Darwin.

Sayangnya, meski sudah menghasilkan serentetan dampak buruk, keyakinan tentang evolusi telah begitu merasuk ke dalam pemikiran banyak orang, terutama masyarakat Barat, sehingga telah menjelma menjadi 'agama' tersendiri. "Teori evolusi telah menjadi agama yang tidak toleran bagi hampir semua orang Barat yang terdidik. Ia mendominasi pemikiran, pembicaraan dan harapan-harapan peradaban mereka," ungkap ilmuwan Malaysia Osman Bakar. Akibatnya etika evolusi kerap bertentangan dengan etika agama, seperti etika Islam. Jika etika agama menempatkan manusia sebagai makhluk mulia yang berbeda dengan hewan, etika evolusi dengan seenaknya menyatakan manusia adalah satu spesies dari sekian ribu spesies hewan, manusia keturunan hewan dan terciptanya manusia terjadi secara kebetulan tanpa ada peran Tuhan.

Jika sudah menihilkan peran Tuhan, bisa ditebak bagaimana kelanjutannya. Manusia akan melakukan apa saja, termasuk yang merendahkan harkat kemanusiaannya sendiri. Contoh yang paling akhir adalah bioteknologi kloning. Kloning adalah metoda pengembangbiakan makhluk hidup tanpa proses perkawinan, mirip dengan pembiakan vegetatif pada tumbuhan.

Setelah berhasil melakukan penggandaan domba melalui metoda kloning, sejumlah ilmuwan Barat segera beranjak ke eksperimen kloning terhadap manusia. Mereka menginginkan dapat menggandakan manusia sehingga seorang manusia bisa memiliki 'fotokopian' dirinya dalam jumlah tak terbatas. Berbeda dengan kasus kloning pada domba, hewan yang tidak mengenal etika, kasus kloning pada manusia jelas berimplikasi luas dan akan mengobrak-abrik harkat kemanusiaan. Contoh sederhana, tentang orangtua, para kembar identik itu akan kebingungan menentukan siapakah orangtuanya. Misalnya, seorang bernama Inggrid memiliki orangtua bernama Robert dan Susan. Tatkala Inggrid mengkloning dirinya, ia menggunakan rahimnya sendiri untuk mengandung bakal kembar identiknya. Setelah kembar identik ia lahirkan dan diberi nama Martha, maka timbul pertanyaan: bagaimanakah status hubungan darah Inggrid dan Martha, apakah hubungan ibu dan anak atau hubungan saudara kandung?

Bagi kalangan yang beragama, jelas status hubungan itu menjadi masalah yang sangat serius, tetapi bagi kalangan materialis dan evolusionis, semua itu tidak jadi masalah. Sebab bagi mereka, apakah Tuhan ada atau tidak, tidak jadi masalah. Apalagi sekedar soal kloning. Artinya, kalau paham materialisme sudah merasuk dan peran Tuhan sudah dinihilkan, apapun akan orang lakukan, sekalipun akan menjadikan manusia kehilangan kemanusiaan dan keberadabannya.


Setumpuk Kelemahan Teori Evolusi

Ada terlalu banyak fakta kelemahan teori evolusi untuk ditulis pada halaman majalah ini. Tetapi dari sedikit saja yang diungkap sudah bisa meluluhlantakkan teori itu. Misalnya saja tentang catatan fosil dan keteraturan alam. Dalam Origin of Species, Darwin menjelaskan: "Jika teori saya benar (bahwa suatu spesies berasal dari spesies lain, red), pasti pernah terdapat jenis-jenis bentuk peralihan yang tak terhitung jumlahnya, yang mengaitkan semua spesies dari kelompok yang sama Sudah tentu bukti keberadaan mereka di masa lampau dapat ditemukan pada peninggalan fosil-fosil."

Ternyata teori itu tidak benar. Yang menarik, ketidakbenaran teori itu dinyatakan oleh Darwin sendiri, sehingga ia mengaku jadi terbingung-bingung: "Jika suatu spesies memang berasal dari spesies lain melalui perubahan sedikit demi sedikit, mengapa kita tidak melihat sejumlah bentuk transisi di manapun? Mengapa alam tidak berada dalam keadaan kacau-balau, tetapi justru seperti kita lihat, spesies-spesies hidup dengan sebaik-baiknya? Menurut teori ini harus ada bentuk-bentuk peralihan dalam jumlah besar, tetapi mengapa kita tidak menemukan mereka terkubur di kerak bumi dalam jumlah tidak terhitung? Telah lama kesulitan ini sangat membingungkan saya."

Atas kebingungan itu, seorang ahli paleontologi yang juga evolusionis pendukung Darwin, Mark Czarnecki, memberikan jawaban justru meruntuhkan teori Darwin: "Kendala utama dalam membuktikan teori evolusi selama ini adalah catatan fosil; jejak spesies-spesies yang terawetkan dalam lapisan bumi. Catatan fosil belum pernah mengungkapkan jenis-jenis peralihan hipotesis Darwin sebaliknya, spesies muncul tiba-tiba dan musnah secara tiba-tiba. Kepercayaan ini menguatkan argumentasi kresionis (penganut kepercayaan bahwa alam semesta dan isinya diciptakan oleh Tuhan dan menolak teori evolusi, red) bahwa setiap spesies diciptakan oleh Tuhan."

Alhasil, semakin gigih para evolusionis mencari bukti untuk mendukung teori mereka, akan semakin banyak fakta yang meruntuhkan teori itu, dan sebaliknya justru kian meneguhkan keberadaan dan kemahakuasaan Allah Sang Pencipta.

"Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi serta silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang yang berakal. Yakni mereka yang mengingat Allah dalam keadaan berdiri, duduk dan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka." (QS Ali Imran: 190-191).· Saiful Hamiwanto

Filsafat Materialisme, yang lahir di Yunani Kuno, memperoleh kemenangan di abad ke-19. Filsafat kuno ini meraih keberhasilannya melalui dua tokoh filsuf Jerman, Karl Marx dan Friedrich Engels.

Marx dan Engels berusaha menjelaskan filsafat materialis, yang bertahan hidup selama berabad-abad, dengan penjelasan baru bernama “dialektika”. Secara singkat, dialektika beranggapan bahwa segala perubahan yang terjadi di alam semesta adalah akibat dari konflik persaingan dan kepentingan pribadi antar kekuatan yang saling bertentangan.

Marx dan Engels menggunakan dialektika untuk menjelaskan keseluruhan sejarah dunia. Analisis sederhana oleh Marx menyatakan bahwa sejarah kemanusiaan didasarkan pada konflik, dan konflik yang ada saat ini adalah antara kaum buruh dan masyarakat kelas atas. Ia meramalkan bahwa kaum buruh pada akhirnya akan menyadari bahwa harapan satu-satunya adalah agar mereka bersatu dan melakukan revolusi.

Marx dan Engels memiliki kebencian mendalam terhadap agama. Sebagai ateis tulen, mereka menegaskan bahwa penghapusan agama adalah perlu demi keberhasilan Komunisme. Saat Marx dan Engels sedang merumuskan pandangannya, muncul perkembangan penting yang dapat memberikan dukungan bagi teori mereka. Darwin muncul ke permukaan dengan bukunya The Origin of Species. Darwin menyatakan bahwa di alam kehidupan, makhluk hidup berevolusi dan bertahan hidup akibat adanya perjuangan untuk mempertahankan hidup. Apa lagi ini kalau bukan dialektika? Lagi pula, ini adalah dialektika yang muncul untuk mengingkari segala peran agama termasuk adanya penciptaan atau Pencipta. Ini adalah kesempatan emas bagi Marx dan Engels.

Engels membaca buku Darwin segera setelah terbit dan menulis kepada Karl Marx:
“(Buku) Darwin, yang kini sedang saya baca, sungguh mengagumkan”.

Karl Marx menjawab:
“Ini adalah buku yang berisi dasar berpijak pada sejarah alam bagi pandangan kita.”

Engels sangat terpengaruh oleh teori Darwin sehingga, dalam upaya memberi sumbangsih pada teori tersebut, ia menulis artikel berjudul: “Peran yang Dimainkan Kaum Buruh dalam Peralihan dari Kera ke Manusia”. Dengan segera, Engels mengumpulkan seluruh gagasan evolusionisnya dalam sebuah buku berjudul “Dialectics of Nature”.


Buah Komunisme di Uni Sovyet

Pandangan Karl Marx dan Engels tumbuh dan berkembang subur, khususnya setelah kematian mereka. Vladimir Ilyich Lenin adalah yang pertama menerapkan revolusi komunis sebagaimana dicita-citakan Karl Marx.

Lenin adalah pemimpin pergerakan komunis Bolshevik di Rusia. Saat itu, rejim Tsar diperintah oleh dinasti Romanov. Kaum Bolshevik di bawah pimpinan Lenin sedang menunggu kesempatan untuk menumbangkan rejim Tsar dengan kekuatan. Kekacauan akibat Perang Dunia Pertama memunculkan peluang yang ditunggu-tunggu kaum Bolshevik. Di bulan Oktober 1917, mereka berhasil mengambil alih kekuasaan. Setelah revolusi, Rusia menjadi ajang perang saudara berdarah antara kaum komunis melawan para pendukung Tsar. Siapapun yang dianggap musuh oleh kaum komunis, termasuk keluarga Romanov, dibunuh secara sadis.

Sebagaimana gurunya, yakni Karl Marx dan Engels, Lenin pun seorang evolusionis tulen, dan seringkali menegaskan bahwa teori Darwin adalah dasar berpijak filsafat materialis dialektika yang ia agungkan.

Trotsky adalah nama penting kedua dalam revolusi Bolshevik. Ia juga sangat menekankan pentingnya Darwinisme, dan menyatakan dukungannya kepada Darwin dengan mengatakan.


Penemuan Darwin adalah kemenangan tertinggi dialektika di seluruh alam kehidupan.

Joseph Stalin, sang diktator Partai Komunis paling kejam, menggantikan Lenin pada tahun 1924. Menengok 
tiga puluh tahun pemerintahan teror Stalin, siapapun hampir pasti akan berkata bahwa kebijakan Stalin secara umum adalah untuk membuktikan kekejaman komunisme.

Di antara kebijakan pertamanya adalah menghilangkan kepemilikan tanah secara individu. Ia mengerahkan tentara untuk memaksa petani, yang berjumlah 80% dari populasi, agar menggabungkan tanah mereka menjadi lahan-lahan luas kolektif milik pemerintah. Biji-bijian tanaman pangan dipanen oleh tentara bersenjata. Kelaparan pun melanda, merenggut nyawa pria, wanita dan anak-anak. Tapi Stalin terus saja mengekspor stok makanan daripada memberi makan penduduknya. Menurut perhitungan, sekitar sepuluh juta petani tewas dalam tahun-tahun ini. Enam juta orang mati kelaparan di Ukraina. Dua puluh persen penduduk Kazakhstan lenyap. Di Kaukasus saja, angka kematian mencapai satu juta.

Stalin mengirim ribuan para penentang kebijakannya ke kamp kerja paksa di Siberia. Kamp-kamp ini, tempat para tahanan dipekerjakan sampai mati, menjadi kuburan bagi kebanyakan mereka. Di samping itu, puluhan ribu orang dibunuh oleh polisi rahasia Stalin. Di wilayah Krimea dan Turkistan, jutaan orang juga dipaksa pindah ke daerah-daerah terpencil di Uni Soviet.

Akibat kebijakan berdarah Stalin, sekitar tiga puluh juta orang mati terbunuh. Menurut para ahli sejarah, Stalin merasakan kenikmatan tersendiri dari kekejaman ini. Di kantornya di Istana Kremlin, ia merasa senang ketika memeriksa daftar orang-orang yang dieksekusi dan dibunuh.

Selain karena kondisi kejiwaannya, yang menjadikan Stalin pembunuh masal kejam adalah keyakinan kuatnya pada filsafat materialis. Dan dasar berpijak filsafat ini, dalam pengertian Stalin, adalah teori evolusi Darwin. Ia mengatakan:.

Tiga hal yang kita lakukan agar tidak melecehkan akal para pelajar seminari kita. Kita harus mengajarkan mereka usia bumi, asal-usul bumi, dan ajaran-ajaran Darwin.

Satu lagi yang menunjukkan keyakinan buta Stalin pada teori evolusi adalah penolakan hukum genetika Mendel oleh sistem pendidikan Soviet. Sejak awal abad ke-20, hukum Mendel telah diterima oleh kalangan ilmuwan – kecuali di Uni Soviet. Penemuan ini menggugurkan klaim Lamarck, yang sebagiannya juga diyakini Darwin, tentang “pewarisan sifat-sifat dapatan kepada generasi berikutnya”. Ilmuwan Rusia Lysenko menganggap hal ini sebagai pukulan berat terhadap teori evolusi, dan merumuskan teori alternatif Lamarckis. Stalin kagum atas ide Lysenko dan kemudian mengangkatnya sebagai kepala lembaga-lembaga ilmiah milik pemerintah. Hingga kematian Stalin, ilmu genetika tidak diterima di lembaga-lembaga ilmiah Uni Soviet.


Evolusi dan Komunisme Cina

Selama pemerintahan totaliter Stalin, rejim komunis lainnya yang berlandaskan Darwinisme didirikan di Cina. Pada tahun 1949, setelah perang saudara yang panjang, kaum komunis memenangkan kekuasaan di bawah pimpinan Mao Tse Tung. Mao mendirikan rezim penindas dan berdarah, sebagaimana sekutunya Stalin yang memberinya banyak dukungan. Hukuman mati yang tak terhitung jumlahnya terjadi di China. Sekitar tiga puluh juta orang mati kelaparan akibat kebijakan kejam Mao. Selama Revolusi Kebudayaan, kelompok pemuda militan yang disebut “Pasukan Pengawal Merah Mao” menghempaskan negeri ini dalam kekacauan dan ketakutan. Mao menjelaskan landasan filosofis rezimnya dengan menyatakan secara terang-terangan bahwa: “Sosialisme Cina didirikan di atas Darwin dan teori evolusi”. Ahli sejarah universitas Harvard, James Reeve Pusey juga mengakui pengaruh Darwinis pada Maoisme. Dalam bukunya yang berjudul “China and Charles Darwin”, Pusey mengatakan:

Darwin telah membenarkan perubahan dan revolusi dengan kekerasan. Sungguh, ini adalah satu di antara hal paling berharga yang diberikan Darwin pada China. Dan ini betul-betul sesuai dengan pemikiran Mao Tse Tung.
(James Reeve Pusey, China and Charles Darwin, Harvard University Press, Cambridge Massachusetts, 1983, p. 450-51)

Komunisme telah menyebabkan teror, perang gerilya dan perang saudara di banyak negara. Di Kamboja, Khmer merah komunis membantai hampir sepertiga dari penduduk negeri. Manusia dibunuh hanya karena mengambil sedikit makanan dari lahan pertanian kolektif atau mengucapkan perkataan yang bertentangan dengan komunisme. Bukti-bukti pembantaian Kamboja menampakkan kebiadaban komunisme tanpa perlu dijelaskan lagi.

Selama seratus lima puluh tahun, ideologi komunis, yang identik dengan pertikaian dan peperangan, senantiasa berjalan beriringan dengan Darwinisme. Kini, kaum Marxis dan komunis masih merupakan pendukung utama Darwinisme. Di hampir setiap negara, pendukung terdepan teori evolusi cenderung berpandangan Marxis. Mudah dipahami, sebab sebagaimana perkataan Karl Marx sendiri, teori evolusi berisi dasar berpijak pada sejarah alam bagi ideologi materialisnya.


Kesimpulan

Darwinisme muncul seratus lima puluh tahun yang lalu. Sejak itu, bencana yang ditimbulkan pada manusia adalah kebrutalan para diktator, rasisme, penyiksaan, penganiayaan dan peperangan. Ini adalah akibat alamiah yang dimiliki Darwinisme dan materialisme terhadap umat manusia. Filsafat gabungan ini, yang menganggap manusia tak lebih dari spesies hewan, yang hanya meyakini “materi”, dan yang menyatakan bahwa pertikaian adalah hukum alam yang tak berubah, akan menghilangkan sifat kemanusiaan dan menghancurkan masyarakat.

Penyebab sesungguhnya dari semua ini adalah keingkaran manusia terhadap Pencipta mereka sendiri. Masyarakat yang berpaling dari Allah, dan terpedaya oleh dogma seperti materialisme, menjadi rentan terhadap segala bentuk kerusakan. Akibatnya, mereka menderita kesengsaraan, ketakutan dan kebinasaan. Allah menyatakan hal ini dalam firman-Nya:

Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). (QS. Ar-Ruum, 30:41)
Kedamaian, keadilan dan ketentraman akan terwujud hanya jika Darwinisme dan materialisme diungkap kepada dunia sebagai kebohongan sebagaimana wajah asli mereka, dan ketika manusia mengetahui tujuan penciptaannya, yaitu mengabdi kepada Penciptanya, mengabdi kepada Allah

0 komentar:

alipoetry © 2008 Por *Templates para Você*