Selasa, 17 Maret 2020

Hanya Berusaha Mengobati Hati dengan Kata-Kata




Hanya Berusaha Mengobati Hati dengan Kata-Kata
           
Sebenarnya untuk saat ini tak punya banyak waktu untuk bersantai-santai apalagi untuk menulis kata-kata yang mungkin aku sendiripun mengklaim sebagai kata-kata yang tiada artinya, namun seperti yang pernah kutuliskan pada kesempatan lain, meski demikian sebuah kata tak pernah ada kata-kata yang tercipta dengan tanpa arti apa-apa atau paling mudah aku membahasakannya dengan “tak ada kata-kata yang sia-sia” ya meski saat ini aku merasa kata-kata yang kubuat saat ini diklaim sebagai kata-kata yang sia-sia, tapi paling tidak ini bisa memberi sedikit arti bagi penulis untuk paling engga menutup sedikit celah kepenatan, kebencian, kerinduan, amarah, emosi, lelah, putus asa, merasa diri orang yang bodoh, merasa diri sebagai orang yang terbuang, merasa diri orang yang tak memiliki arti, merasa jadi seorang pecundang, merasa yang paling terhinakan, merasa menjadi orang yang paling culas, merasa menjadi orang yang paling mudah dibodohi, merasa orang yang mudah dipermainkan, merasa menjadi seorang laki-laki yang tak ada upaya, merasa menjadi manusia yang tak dianggap sebagai menusia, merasa kosong, merasa sepi, merasa sendiri dan merasa sunyi senyap. Dan dengan kata-kata ini saya berusaha menjadi manusia yang selalu bersyukur kepada Allah SWT tak peduli apa yang sedang aku alami sekarang.
            Aku benar-benar menyadari pada saat genting seperti sekarang seharusnya harus bisa lebih tenang dan santai dalam melakukan segala hal terutama hati ini, harus lebih hangat menyambut hari lebih hangat dari pada cahaya mentari ketika dhuha, seharusnya hati ini lebih santai seperti banyak orang yang happy di pantai, seharusnya hati ini lebih slowly seperti kebanyakan orang yang lagi bersantai di pulau, seharusnya hati ini lebih sejuk melebihi sejuknya angin pegunungan dan lebih suci dan bening melebihi suci dan beningnya embun pagi. Dan melalui kata ini aku hanya berupaya memetik semua itu tanpa harus mengganggu orang lain, tanpa harus mengganggu keluargaku, sahabatku atau orang yang saya cintai. Karena aku sadar betul mereka juga memiliki kesibukan yang lebih daripada kesibukanku yang sederhana ini.
Ya jika harus aku katakan, sebenarnya aku juga ingin ketika dalam keadaan seperti ini ada seorang yang kuimpikan datang untuk memberi sedikit teh manis untuk menemaniku duduk di depan meja kerja mungilku, membangunkanku ketika mulai kelelahan dan tertidur pulas meninggalkan pekerjaanku, memberitahu kalau waktu shalat telah tiba, membuatkan aku sarapan pagi dan makan bersamanya, atau paling tidak menanyakan tentang khabarku yang mulai dalam keadaan kelelahan. Tapi aku sadari itu memang belum waktunya buatku seperti itu. Dan untuk saat ini hanya kata-kata inilah yang mampu menemaniku membayangkan hal yang demikian indahnya.
“Tantangan utama” di bulan ini akan segera datang dalam beberapa hari lagi, dan aku menyadari betul persiapan yang telah kupersiapkan masih teramat jauh dari kesempurnaan, ditambah lagi pikiranku yang saat-saat seperti ini tak bisa kuajak kompromi, meski sudah kupaksakan untuk kututup lembaran itu paling tidak sampai semua pekerjaan dan tugasku selesai, namun entahlah hati dan perasaan memang susah sekali diajak kompromi, lebih sulit daripada sekedar menaklukan harimau atau singa yang buas. belum selesai dengan satu urusan yang meski kutahan sampai pada waktunya, sudah datang masalah lama yang mendobrak ketenanganku, menghimpit dada membuat aku sesak dan sulit sekali keluar dari cengkramannya, kalau boleh kuibaratkan saat ini saya seperti “berjalan diantara jalan setapak yang licin, disampingnya ada jurang terjal yang siap menerima jika aku terjatuh, ditambah lagi hujan batu api yang menghantamku dari atas”. tak usah terlalu dibayangkan semua itu hanya ibarat. Meski demikian saya tak akan menyerah. Cukup Allah bagiku
Ya cukup Allah bagiku, aku berdoa setiap saat tidak untuk lari dari setiap masalah yang telah Allah sediakan untuk mengujiku, aku hanya mampu berdoa kepada Allah untuk memberikan kekuatan dan mengajarkan kepadaku untuk menyelesaikan semua ujian itu dengan baik tanpa harus mengeluh dan tetap bersyukur akan segala Karunia dan Kekuasaannya. Tak hanya itu, Kutitipkan doaku untuk bidadari mungil yang ada disana, yang saat ini mungkin keadaannya lebih sulit daripadaku, aku titipkan ia pada Allah semoga ia diberikan kekuatan dan petunjuk untuk menyelesaikan semua ujian yang dihadapinya, aku yakin ia mampu menyelesaikan semua ujian kehidupan dengan baik dan benar.
Dan sekali lagi hanya dengan kata-kata ini aku mampu memeluk segala hal termasuk, angin, air, api, tanah, daun, ranting-ranting, sungai, gunung, lautan, matahari, awan, sahabat, keluarga, seseorang yang kuimpikan kelak, dan yang pasti Allah tak pernah lepas dari setiap kata yang keluar dari tubuh dan jiwa milik-Nya ini.
Terimakasih Allah...

0 komentar:

alipoetry © 2008 Por *Templates para Você*