Kamis, 13 Januari 2011

RASAKAN SEMUA RASAMU



RASAKAN SEMUA RASAMU


Ini pemikiran ketika “Seseorang” yang tak pernah menyadari kekuatannya, ia menyendiri dalam gelap gulita dengan pintu-pintu terkunci rapat dan tak ada suara gemuruh apapun kecuali angin yang keluar dari dua lubang hidungnya yang mulai terasa sesak karena cuaca dingin dan kepedihan menyelimutinya.

Jiwanya menerawang ke seluruh alam, entahlah apa yang ia cari, segunung emas yang menjulang ke atas langitkah, setumpuk permata yang terhampar di dasar jurangkah atau mungkin berjuta berlian yang terhampar dilautan dan samudera yang luas, memang pikiran dari jiwanya lebih luas dari itu semua bahkan takan mampu tertukar dengan kekayaan itu.

Dalam sayembara pemikirannya ia berhenti sejenak, lalu ia ambil sebuah pensil dan secarik kertas dari sisi tubuhnya yang seolah ia duduk di atas mimbar ruang kerjanya, dan tertulislah di atas kertas putih itu tentang alam dan apa yang ia pikirkan, sejenak ia terhenti lalu ia meminum kopi pahit yang tak mampu ditemani oleh manisnya gula, dan coretan tangannya lanjutkan kembali sebuah pemikirannya tentang alam dan ia rasakan.

Terlihat seperti terpampang diantara awan putih bercahaya saat mentari bertahta di atas langit sebuah tulisan, semua yang di pikirkannya. Ia berpikir bahwa semua bagian-bagian alam ini adalah satu dan saling berkaitan, lantai, dinding, pohon, hujan, air, matahari, manusia, rasa, sepi, dingin, sunyi, aku, dia, mereka, kau, batu, langit, cinta, tangis, airmata, semua adalah satu keterkaitan dalam satu titik terdahsyat dalam pemikirannya.

Ia mengatakan dalam pikirannya, tak usah kau rasakan satu rasa karena keindahan adalah disaat kita mampu merasakan dan memahami semua rasa yang tertulis dalam pemikiran kita yang luas dan yang tak mampu terbayar oleh segunung emas, setumpuk intan permata yang ada di dasar jurang atau berjuta berlian yang terhampar di lautan dan samudera. (Hambali Ibnu Ranim)-he_D

Dalam pemikirannya yang tak berupa segitiga, persegi emat, silang, garis lurus, koma, tanda tanya atau kotak yang kebanyakan kita menyukai karena kesederhanaan bentuknya. Akan tetapi lebih dari itu, pemikirannya yang sederhana berbentuk titik (.). Ia memikirkan bahwa apa yang kita rasa sekarang juga dirasakan oleh orang lain dengan rasa-rasa dan rasa yang berlainan namun berkaitan dan adanya “saling”. Entah menguntungkan atau merugikan, tapi rasakanlah itu sebagai keindahan.

Sejenak “seseorang” itu terdiam dan mengupas sebiji anggur dan memasukannya ke cawan yang berisi kopi pahit berharap ada rasa lain yang ingin ia rasakan, lalu ia meminumnya dengan tegukan istighfar dan menikmatinya dengan angin pujian.

Sesaat waktu, lalu ia mengambil kanvas yang begitu akbar, sepertinya kanvas yang ia miliki adalah kanvas ketidakberhinggaan.

Sambil menerawang dalam alam ide-nya ia menggambarkan seorang wanita dan seorang pria yang ditandai sebuah lambang percintaan “love♥” kebahagiaan, kesenangan, senyuman yang selalu dirasakan kedua insan ini seolah tak selamanya abadi, si wanita berkhianat kepada si pria, si wanita itu melukai hati si pria dan akhirnya si wanita itu berbagi dan membentuk kebahagiaan dengan pria lainnya. Sedang si pria pertama, hari-harinya dilalui dengan tangisan dan air mata. Dan akhirnya seluruh rasa itu terpampang di kanvas akbarnya, sedih, bahagia, manusia, air mata, seseorang dan orang lainnya akan selalu ada keterkaitan dan masih ada banyak keterkaitan yang belum mampu terjawab.

Kemudian “Seseorang” itu melanjutkan lukisan di kanvasnya, ia melukiskan rasa kesedihan si pria pertama yang ditinggalkan kekasihnya itu berkaitan dengan perasaan baru yang membahagiakan bagi perasaan si pria kedua, meski disisi lain gemuruh dan gelombang air mata terus mengalir dari sudut mata si pria pertama. Dan tak pernah ia menyadari akan ada rasa lain dari rasa-nya itu.

Masih banyak warna yang ingin ia sampaikan di atas kanvas itu melalui lukisan-lukisan pemikirannya, ia ingin mengatakan kepada si pria pertama yang selalu meneteskan air mata “tak usah lagi engkau bersedih dan hanya merasakan kepedihan dalam hatimu, biarlah kuambil air matamu dan kujadikan tinta lukisanku, berbahagialah wahai pria berhati lembut, rasakanlah kebahagiaan dalam kepedihan dan air matamu, karena lihatlah ia wanita yang engkau cintai begitu berbahagia, dan pria yang bersamanya itu begitu berbahagia pula, dan yakinlah engkau-pun bisa merasakan keindahan dengan merasakan seluruh rasa yang terlukis di kanvas pemikiranku yang luas”.

Engkau dan air mata-mu, ada cerita yang belum terlukis di atas kanvasku, akan ada kisah lain yang akan menyambutmu dan membangun kebahagiaan bersamamu, “ia” adalah semua rasa yang mampu engkau rasakan, “wanita” yang bukan memang pujaan setiap pria, tetapi wanita yang selalu berusaha menjadi istri ideal dan penghuni jannah.

Rasakan semua rasamu, dan yakinlah kita mampu merasakan keindahan yang luas yang tak berhingga yang takan mampu tertukarkan oleh semua intan permata, emas, berlian dan seluruh kerajaan di muka bumi ini.


Senin, Pondok Mungil 11:21
Ciputat, 08 November 2010
Hambali

0 komentar:

alipoetry © 2008 Por *Templates para Você*